Mencintai dan Melestarikan Kebudayaan Wujud Apresiasi Jerih Payah dan Pemikiran Leluhur

Dewi Fajar Marhaen (empat dari kiri) bersama penari Kaluhuran Nuswantara.

DEPOK – Bangsa Indonesia mempunyai kebudayaan yang beragam yang tidak dimiliki oleh negara lain. Merawat dan melestarikan kebudayaan yang beragam tersebut bisa dilakukan melalui berbagai cara, salah satunya dengan mencintai kebudayaan Indonesia.

Demikian disampaikan Dewi Fajar Marhaen, Ketua Komunitas Bakul Budaya FIB Universitas Indonesia, saat menjadi salah seorang narasumber fun talk show bertajuk “Hara Dipta” di Balai Sidang Universitas Indonesia, Kampus Depok, Sabtu (4/4).

Talk show yang diselenggarakan Ikatan Alumni Resimen Mahasiswa Universitas Indonesia (Iluni Menwa UI) untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional ini mengusung tema, “Money or Passion? The Smartest, The Richest or The Hottest.”

“Kita ingin melalui Bakul Budaya ini bersama-sama melestarikan kebudayaan dengan cara mencintai kebudayaan kita yang beragam yang tidak dimiliki oleh negara lain,” kata Dewi Fajar Marhaen yang tampil satu sesi bersama Eni Gustina (Deputi Bidang KB dan Kesehatan Reproduksi BKKBN) dengan moderator Corina D. Riantoputra (Guru Besar Bidang Psikologi Kepemimpinan UI).

Dewi yang menjadi Ketua Bakul Budaya tahun 2023 ini mengajak generasi muda untuk lebih terlibat mencintai dan terlibat dalam usaha pelestarian kebudayaan.

“Karena dari usaha pelestarian kebudayaan sama dengan mengapresiasi hasil jerih payah leluhur kita dan pemikiran yang sudah diberikan oleh leluhur kita lewat kebudayaan lokal,” ujar sarjana Jurusan Sastra Indonesia UI ini.

Dalam acara “Hara Dipta” ini Bakul Budaya menampilkan tari Kaluhuran Nuswantara karya koreografer Anter Asmorotedjo dan musisi Pardiman Djoyonegoro. Seluruh gerakan tarian yang bernuansa ceria dan jenaka ini diadaptasi dari gerak para Punakawan yang terdiri atas Semar, Petruk, Gareng dan Bagong.

“Ada pesan yang ingin kami sampaikan dalam tarian ini yaitu bagaimana kita bisa mencintai kebudayaan kita yang sangat beragam. Melalui tarian ini kita bisa berinteraksi terhadap kebudayaan dan mengenal apa dan siapa Punakawan, siapa tokohnya, siapa wong cilik dan filosofi apa saja,” katanya.

Komunitas Bakul Budaya akronim dari Bareng-bareng Kumpul di Kampus Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Komunitas dengan semboyan “Merawat Kebudayaan Merajut Kebhinekaan” ini digagas oleh Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (ILUNI FIB UI).

Bakul Budaya lahir pada tahun 2022 sebagai jawaban atas keresahan penggiat budaya terhadap meningkatnya individualisme di masyarakat saat ini. Salah satu misi utama Bakul Budaya adalah membuka ruang interaksi bagi masyarakat, menciptakan lingkungan yang harmonis di antar individu yang beraneka ragam.

Selain itu, hal yang sangat menarik dari Bakul Budaya adalah keberagaman peserta yang terlibat. Kegiatan ini terbuka untuk semua kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga orang tua, sehingga menciptakan jembatan generasi yang kuat, di mana pengetahuan yang ada dalam budaya tradisional dapat disampaikan.

Pada 2024, Bakul Budaya juga akan membuka sejumlah kelas budaya seperti Kelas Gamelan Jawa, Kelas Meditasi untuk Kesehatan, juga Kelas Tari Nusantara Lanjutan.(bud/shr)

Array
Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup