MAC Gelar Sarasehan Budaya Kepemimpinan Berbasis Kebudayaan Nusantara

DEPOK – Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasioanal, 20 Mei, Makara Art Center menyelenggarakan sarasehan budaya dengan tema kepemimpinan berbasis kebudayaan Nusantara.

Tema ini diambil sebagai upaya menggali nilai-nilai dan etika spirit kepemimpinan yang ada dalam berbagai tradisi masyarakat Nusantara. Sarasehan dilaksanakan di Gedung Makara Art Center Universitas Indonesia (UI), Senin, 20 Mei 2024, pk 09.00 sampai 15.00.

Ada empat tradisi kepemimpinan yang dibahas dalam sarasehan ini, yaitu tradisi Melayu/Minang, Bugis, Bali dan Jawa. Keempat subtema ini dipaparkan oleh empat narasumber: Tony Junus, Prof. Amri Marzali, Dr. LG Saraswati dan Dr. Syahrial.

Sebagai pembahas dalam sarasehan ini adalah KH. M. Jadul Maula dengan moderator Romo Dony dan Ayie Sri Suminar. Keynote speech disampaikan oleh Dr. Dany Amirul Achadan, anggota Majelis Wali Amanah (MWA) UI dan preview oleh pejabat Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Sementara itu sebagai penyemarak acara tampil pula grup tari Indonesiana And Friends yang terdiri dari penari remaja, Nesia, Ganis, dan Najwa yang membawakan Tari Ratu Graeni yang berkisah tentang kepemimpinan perempuan Sunda dalam mempertahankan Tanah Airnya, dan pemusik Iwenk MJC (Musisi Jalanan Center)

Menurut Kepala MAC UI, Dr. Ngatawi Al Zastrouw, kebangkitan Nasional merupakan cerminan dari sikap kepemimpinan para perintis kemerdekaan yang berakar pada tradisi Nusantara.

Selain itu kebangkitan Nasional juga merupakan ekspresi kreatif para pemimpin bangsa saat itu dalam mengaktualisasikan nilai dan kearifan tradisi dengan tuntutan zaman yang terjadi pada saat itu.

Hal inilah yang melahirkan kepemimpinan yang inspiratif dan aspiratif pada saat itu sehingga mampu menggerakkan dan membangkitkan spirit kebangsaan masyarakat pada saat itu.

“Di sinilah pentingnya kita mengangkat tema ini sebagai upaya menggali nilai-nilai dan spirit kepemimpinan dari berbagai tradisi Nusantara untuk kita aktualisasikan dengan konteks kekinian. Dengan cara ini kita akan dapat menemukan pola dan model kepemimpinan yang cocok dengan situasi kekinian dan sesuai dengan konstruksi sosial budaya masyarakat sehingga dapat diterima dan dipraktekkan dengan mudah,” demikian penjelasan Zastrouw.(bud)

Array
Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup