Home News Update Budaya Akademik Islami Langkah Pembentukan Karakter Pribadi Islami

Budaya Akademik Islami Langkah Pembentukan Karakter Pribadi Islami

Mahasiswa antre saat palang ditutup pas Adzan hingga selesai waktu shalat.

Semarang, 18/4 (BeritaJateng.net) – Budaya Akademik Islami atau yang lebih dikenal dengan (Budai) merupakan strategi pendidikan karakter di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang.

Melalui Budai peserta didik sejak awal masuk kuliah sudah dikenalkan dengan budaya Islami yaitu penerapan adat-adat Islami dalam kegiatan di kampus, di luar kampus, di kelas maupun di luar kelas.

Misalnya saat di dalam kelas, mahasiswa memulai mata kuliah diawali dengan berdoa, tempat duduk dipisah antara laki-laki dan perempuan. Diakhir jam perkuliahan juga ada tausiyah. Pun taharah (bersih diri, lingkungan dan kampus) bagi para mahasiswa.

Budai juga menerapkan kampus bebas asap rokok, membiasakan shalat berjamaah, serta mengatur pergaulan putra dan putri dalam berbusana secara Islami. Sehingga mahasiswa bisa menerapkan dan memiliki karakter kepribadian yang bersifat Islami.

Sarjuni, S.Ag., M.Hum selaku Wakil Rektor III Unissula menjelaskan jika Budai sudah dipikirkan sejak tahun 2001 dan diikrarkan pada 18 Agustus 2005.

Saat ini usianya sudah menginjak 15 tahun, oleh sebab itulah masyarakat lebih tertarik masuk ke Unissula karena jumlah 2/3 mahasiswanya didominasi oleh kaum perempuan, sehingga para orang tua lebih merasa nyaman putrinya kuliah di Unissula.

Suasana berbeda dari kampus lain terlihat saat Adzan berkumandang, karena semua aktivitas dosen, karyawan dan mahasiswa berhenti untuk segera melaksanakn shalat berjamaah.

“Hal ini dalam rangka menjalankan aturan Budai. Masyarakat yang baru pertama kali ke Unissula pasti kaget. Karena semua akses keluar dari Kampus ditutup sampai selesai waktu shalat berjamaah,” ujar Sarjuni saat diwawancarai usai prosesi wisuda, Senin (18/4) siang.

Bahkan tradisi ini juga diikuti oleh Perguruan Tinggi lain seperti UMP, Sarjuni mengaku saat dirinya melakukan studi banding ke Purwokerto, tradisi yang ada di Unissula berlaku juga disana.

“Ternyata Pembantu Rektor II nya mengaku pernah berkunjung dan melihat penerapan Budai saat berada di Unissula,” kata Sarjuni.

Menurutnya, seluruh Dosen dan Yayasan Unissula seharusnya bisa menjadi teladan untuk mengamalkan Budai. Termasuk tausiyah menggunakan bahasa Inggris, yang merupakan bagian dari tradisi dalam menguatkan gerakan berbahasa Internasional. Karena aspek Budai masuk di dalamnya dan apresiasi Ilmu dari literatur banyak yang menggunakan bahasa Inggris. (BJT01)