Home Headline BPPT Klaim Teknologi Biomasa Sokong Produksi Bahan Bakar Nabati

BPPT Klaim Teknologi Biomasa Sokong Produksi Bahan Bakar Nabati

BPPTJakarta, 30/1 (Beritajateng.net) – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengklaim teknologi pengolahan biomassa yang telah dikembangkannya sudah sangat siap menyokong produksi bahan bakar nabati dalam negeri.

“BPPT memang akan fokus ke biomassa untuk mengatasi ‘shortage’ energi. Dan untuk pengembangan energi berbasis sawit saya rasa BPPT sudah sangat matang,” kata Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Energi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Adiarso di Jakarta, Jumat.

Produksi minyak sawit saat ini dapat mencapai 33 ton, dengan jumlah yang diekspor lebih besar dari pada yang dimanfaatkan di dalam negeri.

Menurut dia, lahan sawit yang ditanami baru mencapai sembilan juta hektare (ha), sedangkan potensinya mencapai 50 juta ha.

Meski demikian, ia mengatakan dengan teknik “replanting” yang tepat tentu lahan sembilan juta ha dapat dimaksimalkan untuk memproduksi biomassa untuk menutupi kekurangan energi di masa depan.

“Jadi sebenarnya 10 KL ethanol bisa diproduksi dari satu hektare lahan sawit”.

BPPT, lanjutnya, sudah memulai pengembangan teknologi untuk memproduksi biodiesel sejak 2002, dan saat ini telah memasuki tahap komersialisasi.

“Sudah 12 pabrik dibangun dengan menghasilkan biodiesel berkualitas SNI (Standar Nasional Indonesia–red). Bahkan pabrik penghasil biodiesel dengan limbah nol pun sudah berjalan, teknologinya sudah dipakai Astra Agro di Pangkalan Bun, teknologinya sangat advance,” ujar Adiarso.

Produk biodiesel yang dihasilkan dari teknologi yang dikembangkan BPPT pun, menurut dia, telah dicobakan di Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). “Tinggal PLN saja bisa menindak lanjuti atau tidak. Bahkan tambang-tambang sudah ada pula yang lakukan upgrading menggunakan pembangkit dengan biodiesel”.

Karena itu pula, ia menyatakan BPPT sudah sangat siap untuk menerapkan “green diesel” dan “green gasoline”.

Sebelumnya ia memprediksi Indonesia akan mulai menjadi net impor energi dalam kurun waktu 20 tahun ke depan. Saat ini Indonesia sudah menjadi net impor minyak, dan jika pola produksi batubara masih sama seperti sekarang ini dalam waktu 20 tahun akan habis.

Dan bagi mereka yang bekerja di bidang energi, menurut dia, waktu 20 tahun sangat singkat. “20 tahun itu seperti besok pagi buat kami”.(ant/bj02)