Home Ekbis BI : Resiko Inflasi Harus Tetap Dicermati

BI : Resiko Inflasi Harus Tetap Dicermati

Ilustrasi

Semarang, 2/1 (Beritajateng.net) – Bank Indonesia (BI) meminta risiko inflasi harus terus dicermati oleh Pemerintah dan masyarakat sehingga tidak berdampak negatif bagi pertumbuhan ekonomi.

“Beberapa risiko yang perlu dicermati di antaranya kenaikan tarif listrik, kenaikan harga elpiji, dan faktor musiman,” kata Deputi Kepala BI Kantor Perwakilan Wilayah V Jateng-DIY Ananda Pulungan di Semarang, Jumat.

Meski demikian untuk inflasi Januari, pihaknya memperkirakan akan lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Menurutnya, inflasi yang disebabkan oleh administered prices atau kelompok barang yang harganya ditentukan oleh Pemerintah diperkirakan menurun.

“Ini didorong oleh kebijakan pemerintah terkait penurunan harga BBM. Sedangkan untuk inflasi volatile foods atau kelompok makanan juga diperkirakan akan menurun, sejalan dengan adanya tambahan pasokan yang diusahakan Pemerintah,” katanya.

Dari sisi permintaan atau inflasi inti, ekspektasi inflasi masyarakat juga diperkirakan menurun sebagai respon dari turunnya harga BBM. Oleh karena itu, dalam rangka menjaga inflasi BI akan memperkuat koordinasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terutama kaitannya memastikan distribusi kebutuhan masyarakat dalam kondisi lancar.

Sebelumnya, untuk inflasi bulan Desember lalu banyak dikontribusikan oleh kenaikan harga BBM. Inflasi Jawa Tengah tercatat sebesar 2,25 persen untuk periode bulan ke bulan atau 8,22 persen untuk periode tahunan.

Angka inflasi tersebut meningkat tajam dari inflasi November yang sebesar 1,36 persen. Angka ini juga jauh di atas inflasi periode sama di tahun sebelumnya yang sebesar 0,25 persen maupun rata-rata historis yang berkisar antara 0,2-0,4 persen.

“Kenaikan inflasi Desember lebih disebabkan oleh peningkatan inflasi administered prices dan inflasi volatile foods,” katanya.

Pada bulan Desember, inflasi administered prices tercatat sebesar 4,62 persen periode bulanan atau lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 3,57 persen periode bulanan. Secara tahunan, kelompok ini tercatat sebesar 15,37 persen atau lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 10,57 persen.

Melonjaknya inflasi administered prices merupakan dampak lanjutan dari kenaikan harga BBM bersubsidi di bulan sebelumnya, terlihat dari sumbangan inflasi komoditas bensin yang sebesar 0,54 persen. Sedangkan pada kelompok volatile foods, inflasi juga meningkat menjadi 4,44 persen periode bulanan di Desember 2014, setelah di bulan sebelumnya tercatat sebesar 2,67 persen.

“Untuk tekanan inflasi di kelompok volatile foods terutama disumbang oleh komoditas cabai merah dengan sumbangan sebesar 0,25 persen dan komoditas beras dengan sumbangan sebesar 0,24 persen. Tekanan inflasi dari komoditas cabai merah dikarenakan minimnya pasokan dari petani, namun Pemerintah Jateng sudah merespon minimnya pasokan ini dengan mengimpor cabai dari sentra cabai lain di antaranya Makassar dan Mataram, sedangkan inflasi beras disebabkan oleh berakhirnya masa panen,” katanya.

Namun demikian, capaian inflasi Jawa Tengah masih berada di bawah capaian inflasi nasional yang sebesar 2,46 persen untuk periode bulanan atau 8,36 persen untuk periode tahunan.(ant/Bj02)

Advertisements