Home Headline Bermusik Sembari Kampanye Cinta Lingkungan di Mangroove Jazz Maerakaca

Bermusik Sembari Kampanye Cinta Lingkungan di Mangroove Jazz Maerakaca

465
Direktur PT PRPP Jawa Tengah, Titah Listyorini (paling kiri) bersama Sinta Pramucitra, Ketua Penyelenggara Mangroove Jazz memotong tumpeng simbolis persiapan Mangroove Jazz di Grand Maerakaca.

Semarang, 21/11 (BeritaJateng.net) – Ada yang menarik di gekaran Mangroove Jazz yang digelar Pusat Rekreasi dan Promosi Pembangunan (PRPP) Jateng di Area Plaza Semarang Grand Maerakaca, 23 November 2019 mendatang ini.

Tak hanya menyajikan pertunjukan musik bagi pecinta jazz, akan tetapi kegiatan Mangroove Jazz juga jadi ajang kampanye cinta lingkungan dengan pengurangan limbah plastik di masyarakat Kota Semarang dan Jawa Tengah.

Titah Listorini, Direktur PT PRPP Jawa Tengah mengatakan, dia sangat prihatin akan pencemaran lingkungan akibat sampah plastik. Maka untuk itu pihaknya ingin menggandeng kalangan muda pecinta musik jazz, untuk ikut mengkampanyekan pengurangan sampah plastik lewat kegiatan bermusik.

“Kita sudah benar-benar hidup dikelilingi sampah, sementara pohon-pohon pun semakin berkurang karena tergantikan oleh hutan beton perkotaan. Berangkat dari keprihatinan itu, kami memutuskan mengkampanyekan kesadaran pengurangan sampah, terutama sampah plastik. Salah satunya dengan mengganti penggunaan wadah-wadah plastik sekali pakai yang sulit didaur ulang, dengan wadah yang lebih ramah lingkungan,” kata Titah Listorini saat jumpa pers di Grand Maerokoco, Semarang, Kamis (21/11/2019).

Kampanye ini, akan dikemas sederhana dalam balutan pertunjukan musik jazz groovy yang harapannya dapat diterima oleh kalangan milenial.

Pihaknya memang membidik kaum milenial, karena para pemuda pada usia 20-an inilah yang dalam rentang 10 tahun ke depan akan banyak membuat perubahan.

“Kami juga memilih tempat di Grand Maerakaca, karena lokasi ini sebagai sarana eko-wisata yang juga menjadi salah satu sabuk hijau di wilayah Kota Semarang. Lokasi ini kental akan nuansa alami, dikelilingi hutan mangrove yang asri. Kami berharap Mangroove Jazz nantinya akan menjadi suguhan musik yang intim, akrab, mendekatkan semua orang di samping mengangkat isu sosial yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan,” tegasnya.

Beberapa penampil akan dihadirkan di acara ini. Seperti Abdul & The Coffee Theory, Soegi Bornean, Sore Tenggelam, Komunitas Jazz Ngisoringin, dan Gamaband.

“Pada gelaran yang pertama ini kami juga menggandeng Komunitas KeSEMaT (Kelompok Studi Ekosistem Mangrove Teluk Awur-red). KeSEMaT merupakan kelompok mahasiswa yang mencurahkan perhatiannya pada konservasi, penelitian, pendidikan, dan pendokumentasian ekosistem mangrove,” katanya.

Sementara Sinta Pramucitra, Ketua Penyelenggara Mangroove Jazz mengatakan, selama berlangsungnya acara akan disediakan pojok kopi. Setiap pengunjung yang memiliki tiket Mangroove Jazz dapat menikmati kopi yang tentu saja tidak gratis, namun dapat ditebus dengan menukarkan limbah botol mineral plastik di titik yang sudah ditentukan. Setiap pengunjung juga dapat menikmati free flow mineral water di lokasi yang sudah disediakan.

“Namun untuk minuman ini kami tidak menyediakan gelas plastik, setiap pengunjung dapat membawa tumbler dari rumah. Kami berencana mengadakan gelaran serupa di tahun-tahun selanjutnya. Kesadaran lingkungan semestinya bukan sekadar tren, namun juga gaya hidup. Mangroove Jazz bukan sekadar jazz, ini juga tentang bumi kita,” tegasnya. (El)