Home Kesehatan Berbulan-bulan Diterjang Banjir, Warga Genuk Terserang Berbagai Penyakit

Berbulan-bulan Diterjang Banjir, Warga Genuk Terserang Berbagai Penyakit

Berbulan-bulan Diterjang Banjir, Warga Genuk Terserang Berbagai Penyakit
        Semarang, 20/2 (BeritaJateng.net) – Telapak kaki Astuti, warga Kelurahan Trimulyo, RT 1 RW 1, berlubang-lubang di semua bagian. Selain itu, kakinya juga terkena kutu air. Hal itu dikarenakan kakinya selalu terendam air banjir yang merendam wilayahnya dalam jangka waktu yang lama.
         Astuti mengatakan, tempat tinggalnya sering terendam air. Tidak hanya saat terjadi hujan saja, ketika tidak hujan pun banjir rob air laut juga menggenangi rumah-rumah di Kelurahan Trimulyo khususnya RT 1 RW 1.
       “Sudah berbulan-bulan kami hidup di genangan banjir seperti ini. Tapi yang terparah mulai Rabu (14/2) minggu lalu karena hujan deras sampai malam. Sampai sekarang banjir belum kering juga,” kata Astuti, Senin (19/2).
        Saat itu, sebagian besar warga RW 1 Kelurahan Trimulyo mengungsi dan belum pulang sampai hari ini. Sebagian lainnya memilih bertahan di rumah. Setelah berhari-hari hidup di genangan banjir, Astuti dan beberapa warga lain mengeluhkan berbagai penyakit yang dialaminya.
        “Banyak yang terkena penyakit. Dua anak saya juga. Kutu air, gatal-gatal, diare, mual, muntah dan pusing. Sampai anak saya tidak bisa sekolah karena sakit,” ujar Astuti sembari menunjukan telapak kakinya yang keropos karena terendam banjir cukup lama.
        Dua anak Astuti yang terserang penyakit masih bersekolah di sebuah MTs dan MAN di Semarang. Anaknya tersebut hingga kini belum menerima bantuan medis dan enggan berobat ke Puskesmas atau dokter terdekat. Sementara anaknya yang sekolah di MAN, tetap berangkat sekolah meski kurang sehat.
         “Dua minggu lalu pernah ada bantuan pengobatan gratis dari salah satu RS, kalau dari Pemkot belum pernah,” ungkapnya.
         Saat ditanya kenapa tidak ikut mengungsi, Astuti mengatakan, tidak memiliki tempat tujuan. Dirinya tidak memiliki saudara yang tinggal di Semarang. Bahkan pihak Pemkot Semarang juga tidak menyediakan tempat pengungsian bagi warga yang terdampak banjir.
        Serupa dialami warga lain, Yuni Istiyani. Ia menambahkan, sudah mengalami beberapa penyakit akibat banjir sejak beberapa hari lalu. Yang terparah dialami anaknya yang paling kecil yang terserang diare dan gatal-gatal.
        “Ketiga anak saya sakit semua. Belum ada bantuan pengobatan ke kami. Selama ini ya menyiapkan beberapa obat yang kami beli dari toko untuk jaga-jaga,” kata Yuni yang merupakan buruh di kawasan industri Terboyo itu.
         Lebih lanjut ia mengatakan, obat yang disiapkan hanya mampu untuk mengobati sakit gatal-gatal dan kutu air saja. Sementara untuk diare, mual, muntah sampai demam, ia hanya menggunakan obat seadanya.
         “Saya tidak berani membawa anak ke RS karena tidak ada biaya. Sementara saya tidak punya KTP Semarang meski sudah 18 tahun tinggal di Trimulyo,” paparnya.
         Selain kedua warga tersebut, banyak warga Kelurahan Trimulyo yang juga mengalami kondisi sama. Mereka mengeluhkan berbagai penyakit akibat banjir merendam tempat tinggal mereka cukup lama.
          Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, Agus Harmunanto mengakui, pihaknya telah menerima informasi jika warga terdampak banjir di Kecamatan Genuk, terserang berbagai penyakit.
          “Tapi, peran saya itu hanya koordinator. Jika ada kendala atau warga butuh bantuan apa, saya teruskan ke instansi yang menanganinya. Seperti keluhan penyakit yang dialami warga, itu saya teruskan ke Dinas Kesehatan (Dinkes),” katanya.
         Dikatakannya, selama ini berbagai bantuan telah diberikan. Hanya sifatnya bantuan yang berupa mendadak di antaranya selimut, bantal, pembuatan dapur umum, mi instan dan lainnya. Untuk bantuan beras, pihaknya memintakan ke Dinas Ketahanan Pangan.
         “Jadi sudah ada pembagian tugas masing-masing. Tidak semua keluhan warga terkena banjir bisa kami tangani,” jelasnya.
         Penanganan yang dilakukan BPBD, selain kebutuhan mendadak yang sudah ada stoknya juga penanganan saat bencana banjir terjadi. Biasanya untuk bantuan, pihaknya serahkan melalui pihak Kecamatan atau Kelurahan yang menaungi. (El)