Home Lintas Jateng Belasan Desa Di Kudus Terancam Defisit Anggaran

Belasan Desa Di Kudus Terancam Defisit Anggaran

ilustrasi

Kudus, 3/12 (BeritaJateng.Net) – Belasan desa di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, terancam mengalami defisit anggaran menyusul diberlakukannya Undang-Undang tentang Desa.

“Dengan diberlakukannya UU tersebut, maka tanah bengkok yang sebelumnya digunakan untuk bayar gaji perangkat desa harus dimasukkan ke pendapatan desa,” kata Asisten I Setda Kudus Agus Budi Satriyo di Kudus, Rabu.

Bagi desa yang memiliki tanah bengkok cukup luas, kata dia, perangkatnya berpeluang mendapatkan pemasukan yang lebih besar sesuai dengan hasil sewa tanah bengkok tersebut.

Dengan demikian, lanjut dia, berdasarkan UU Desa tanah bengkok desa dimasukkan langsung ke pendapatan desa dan tidak dikhususkan untuk gaji.

Sementara pembayaran gaji perangkat desa, lanjut dia, sesuai berasal dari Alokasi Dana Desa (ADD).

Pemanfaatan dana tersebut, kata dia, harus mengikuti aturan karena ada untuk pembayaran gaji perangkat dan pembangunan infrastruktur ada persentasenya.

Untuk pembayaran gaji dan operasional desa, kata dia, persentasenya hanya 30 persen, sedangkan 70 persennya untuk pembangunan infrastruktur desa.

Dengan demikian, lanjut dia, desa tidak bisa melakukan penambahan gaji seenaknya karena sudah ada aturannya.

Adapun total ADD tahun 2015, kata dia, sebesar Rp96 miliar dan untuk dana desa yang berasal dari APBN sebesar Rp16 miliar.

Anggaran tersebut, lanjut dia, dibagi untuk 123 desa dengan besaran ADD bervariasi, tergantung dengan jumlah penduduk desa, luas wilayah hingga letak geografis.

Hanya saja, kata dia, ketika disimulasikan dengan gaji setiap perangkat Rp1,5 juta, maka ada 19 desa yang bakal mengalami defisit ketika disimulasikan.

Penentuan gaji sebesar Rp1,5 juta, kata dia, berdasarkan ketentuan upah minimum kabupaten (UMK) tahun 2015 sebesar Rp1.380.000, Permasalahan tersebut, lanjut dia, tentunya perlu dicarikan formulasi yang tepat agar tidak ada yang defisit.

Ia mengungkapkan, desa yang mengalami defisit salah satunya akibat gemuknya struktur atau banyaknya perangkat desa yang diangkat.

“Hal ini belum final karena masih disimulasikan lagi,” ujarnya. (ant/pri)

Advertisements