Home Headline Banjir Bandang Semarang, Warga Minta Dugaan Embung PT IPU Jebol Diusut

Banjir Bandang Semarang, Warga Minta Dugaan Embung PT IPU Jebol Diusut

Wakil Walikota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu tinjau lokasi banjir bandang di Perumahan Wahyu Utomo, Ngaliyan, Semarang.

Semarang, 9/2 (BeritaJateng.net) – Warga Perumahan Wahyu Utomo, Kelurahan Tambakaji, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang mengusut tuntas penyebab banjir bandang yang terjadi pada
Selasa (7/2) lalu. Di antaranya dugaan mengenai adanya embung jebol milik PT IPU di belakang RS Permata Medika Ngaliyan Semarang.

Sebab, banjir bandang yang melibas sekurang-kurangnya 32 rumah warga di enam RT yakni RT 2, 3, 4, 6, 7 dan 9, RW 6, menyebabkan warga trauma. Perlunya pengusutan tuntas terkait penyebab banjir bandang tersebut untuk solusi penanganan agar tidak terjadi lagi di kemudian hari.

“Banjir bandang datang dalam waktu cepat. Hanya 10 menit kemudian surut. Logikanya begini, kalau banjir disebabkan hujan besar (berintensitas tinggi), maka seharusnya daerah Mangkang juga ikut banjir, ini enggak,” kata salah satu warga RT 9, Trio W, 53.

Indikasi itu membuat ia curiga bila banjir bandang tersebut disebabkan karena adanya embung jebol atau meluap. Maka dari itu, ia meminta agar pemerintah menelusuri penyebab banjir bandang tersebut agar tidak terjadi lagi di kemudian hari. “Di rumah saya, air masuk rumah kurang lebih setinggi dada. Otomatis tidak sempat menyelamatkan barang-barang seperti printer, laptop, dan lain-lain. Kalau hujan biasa tidak pernah terjadi apa-apa,” katanya.

Warga RT 7, Bambang Wicaksono, mengatakan kondisi sungai DAS Bringin ini mendesak untuk dilakukan pengerukan atau normalisasi. “Karena terjadi pendangkalan sedimentasi sangat tebal. Struktur kalinya berbelok-belok (membentuk huruf S), di sekitar sungai dihuni permukiman penduduk dengan jarak dekat. Sehingga sangat rawan meluap,” katanya.

Menurutnya, pemerintah perlu dilakukan penanganan sungai tersebut. “Perlu dilakukan pengerukan, harusnya struktur sungai dikembalikan atau diluruskan. Soalnya sekarang berbelok-belok,” katanya.

Camat Ngaliyan Heru Sukendar mengakui adanya dugaan embung jebol milik PT IPU masih dilakukan pengkajian mendalam. “Apakah ada embung jebol masih kami lakukan kajian bersama. Kami sedang melakukan penelitian di sungai, tujuannya untuk mengetahui penyebabnya apa,” kata Heru.

Namun demikian, fokus utama yang mendesak dilakukan adalah melakukan penanganan pembersihan lumpur di jalan kampung dan rumah warga. Hal itu agar warga segera bisa beraktivitas secara normal. “Pembersihan jalan dulu, agar lumpur bersih. Dari target perkiraan bisa diselesaikan, ini dua hari sudah 90 persen. Kami dibantu banyak pihak, mulai dari TNI, Polri, mahasiswa, karang taruna, BPBD, Dinas PU, Dinas Kebakaran, dan lain-lain, semua bergerak bersama. Tinggal 10 persen nanti diteruskan warga,” katanya.

Untuk kerugian materi akibat banjir bandang tersebut, pihaknya belum mengetahui secara pasti. Sebab masih dilakukan inventarisasi. Baik barang-barang milik warga maupun bangunan. Jumlahnya ada 32 rumah warga, tersebar di enam RT, yakni RT 2, 3, 4, 6, 7 dan 9, RW 6. “Terparah di RT 3 dan 9. Kerugian total belum diketahui,” katanya.

Sungai tersebut, kata dia, merupakan kategori Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Bringin. Warga sekitar menyebutnya Sungai Singihas. “Ini DAS Bringin (daerah aliran sungai). Muaranya di Sungai Bringin,” katanya. (El)

Advertisements