Home Nasional Anton Medan : Saya Mantan Penjahat dan Saya Bangga Tionghoa

Anton Medan : Saya Mantan Penjahat dan Saya Bangga Tionghoa

Anton Medan, Islam Tionghoa saat menjadi nara sumber dalam Dialog Kebangsan yang digelar FWPJT-Sekolah Nasional Karangturi, Sabtu.

— Dialog Kebangsaan Nasionalisme Tionghoa untuk Indonesia FWPJT

Semarang, 27/8 (BeritaJateng.net) – “Saya merasa bukan Tionghoa Tapi Saya Orang Indonesia”. Itulah yang disampaikan oleh hampir seluruh narasumber dalam Dialog Kebangsaan ‘Nasionalisme Tionghoa untuk Indonesia’ yang digelar oleh Forum Wartawan Pemprov-DPRD Jateng (FWPJT)-Sekolah Nasional Karangturi, Sabtu (27/8/2016) di Gedung Teater Liem Liang Peng, Sekolah Nasional Karangturi Semarang.

Mengawali dialog, Haryanto Halim pengusaha yang juga budayawan menyampaikan sejak awal diajak diskusi mengenai tema kegiatan tersebut, ia mengaku geli karena sangat jarang ada kegiatan yang mengangkat tema Tionghoa, apalagi untuk Indonesia.

“Saya sejak awal saya menyampaikan apresiasi yang sangat besar kepada FWPJT karena telah mengangkat tema Tionghoa untuk Indonesia, karena ini merupakan kegiatan langka, dan awalnya saya geli,” ujar Haryanto Halim.

Mengenai Nasionalisme Tionghoa untuk Indonesia menurut Haryanto Halim, memang dalam sejarah keberadaan Tionghoa di Indonesia merupakan minoritas, dan orang-orang Tionghoa sejak kemerdekaan Indonesia telah dimanfaatkan oleh pemerintah Indonesia untuk sama-sama membangun Indonesia.

“Dari sisi ekonomi, keberadaan Tionghoa menjadi pioneer pembangunan ekonomi di Indonesia, karena saat itu sistem membatasi orang Tionghoa untuk berkiprah di pemerintahan. Untuk menjadi PNS saja, orang Tionghoa tidak mungkin bisa. Karena tidak bisa masuk ke pemerintahan, maka orang-orang Tionghoa memilih untuk berdagang, saat itulah tonggak sejarah perekonomian Indonesia dibangun,” terang Haryanto Halim.

Sehingga lanjut Harjanto, saat itu keberadaan orang-orang Tionghoa memiliki jasa yang besar dalam pembangunan di Indonesia, namun demikian masih dipandang sebelah mata, masih dianggap minoritas yang tidak perlu diberi ruang untuk membangun Indonesia menjadi lebih besar.

“Namun demikian kegiatan ini bukan untuk mengungkit jasa-jasa Tionghoa dalam membangun Indonesia, bukan untuk sombong-sombongan, karena semua ini untuk Indonesia, saya Tionghoa saya Indonesia dan saya bangga menjadi warga Indonesia,” terang Haryanto disambut riuh tepuk tangan hadirin.

Dan yang terpenting lanjut Haryanto, orang Tionghoa harus bangga, harus berani menunjukkan identitas, tidak usah malu dan tunjukkan eksistensi dimata Indonesia.

“Sebagai pengusaha tidak melakukan diskriminasi, berikan hak sesuai dengan kemampuan bukan karena etnisnya, dan dalam pergaulan tunjukkan bahwa manusia yang baik adalah yang bermanfaat untuk orang lain. Tunjukkan itu dan banggalah sebagai Tionghoa,” pungkas Haryanto Halim.

image2

Sementara itu, Presiden Komisaris Dafam Grup Soleh Dahlan menceritakan bagaimana tragedi 1998 saat runtuhnya Orde Baru. Kejadian Trisakti sarat dengan rekayasa, dimana yang menjadi korban kerusuhan dan penjarahan adalah Tionghoa.

“Saat kejadian itu, kebetulan saya adalah tokoh masyarakat di Pekalongan. Dan Pekalongan adalah sumbu pendek yang hampir setiap tahun terjadi konflik SARA dan yang menjadi sasaran adalah Tionghoa. Pada 1998, saya mendapatkan kabar kalau Tionghoa di Pekalongan menjadi sasaran konflik SARA,” ujarnya.

Karena itu sebagai tokoh yang dekat dengan Kodim, Koramil dan aparat lainnya, ia pun meminta tolong supaya diamankan, namun kedua pimpinan itu menyatakan tidak berani keluar karena diperintah untuk mengamankan markas.

“Maka saya meminta tolong Bapak Mardiyanto yang saat itu Pangdam IV/Diponegoro. Pak Mardiyanto saat itu menyatakan akan membantu dan ternyata benar, sebanyak 600 personil dikirim ke Pekalongan dan Pekalongan pun aman,” tambahnya.

Dari cerita tersebut, kedekatan dengan siapapun bisa dilakukan, baik itu Tionghoa, warga Indonesia Asli, dengan pejabat negara, pejabat penegak hukum dan lain-lain, tapi kedekatan itu bukan untuk kepentingan sendiri melainkan untuk kepentingan Indonesia.

“Kedekatan kita dengan pejabat apapun bukan untuk kepentingan pribadi melainkan untuk kepentingan Indonesia,” tambah Soleh Dahlan.

Beda dengan Haryanto dan Soleh Dahlan, Dewi Susilo Budiharjo, wanita Tionghoa ini mendedikasikan dirinya untuk Indonesia dengan menunjukkan kiprahnya dalam bidang sosial. Membantu rakyat miskin supaya pintar dengan mendirikan sekolah-sekolah gratis, mensejahterakan warga Indonesia dengan membantu pekerjaan dan lain-lain.

“Saat kecil, saya mau main dengan temen yang non Tionghoa saja susahnya minta ampun, temen-temen saya mengatakan kalau saya “Cino”, saya pun berfikir kenapa saya lahir sebagai Tionghoa, tapi kemudian saya tanya ke Ibu saya, kenapa temen-temen mengatakan “Cino”, ibu saya hanya menjawab ‘karena kamu kulitnya putih dan matanya sipit,” ujar pengusaha Kafe yang juga Ketua DPW PSMTI Jateng ini.

Dalam perjalanan waktu, ia pun menyadari bahwa dirinya bukan Cina, tapi Indonesia. Maka ia pun mendedikasikan hidupnya untuk Indonesia dengan bergerak dibidang sosial, tidak membedakan status sosial, dan saat ini ia pun bisa berdampingan mesra dengan semua kalangan dan agama.

“Tionghoa hanya suku, tapi hati dan jiwa raga ini untuk Indonesia, dan saya bangga menjadi warga Indonesia,” pungkas Dewi.

Lain halnya dengan Dewi, wanita Tionghoa yang satu ini juga merasa bukan Tionghoa, karena ia lahir dan besar di Indonesia. Ariyani Matius Maun mendedikasikan dirinya untuk Indonesia dengan membuat produk Indonesia yang bisa menjadi raja di negaranya sendiri.

“Saya juga dedikasikan hidup saya untuk Indonesia, saya memiliki ambisi besar membuat produk Indonesia yang menjadi raja di negara, ciptakan karya untuk menghrumkan Indonesia dimata negara lain,” ujar Founder Batikmall.com ini.

Senada dengan itu, Lian Gouw dari Diaspora Indonesia menyampaikan untuk bisa mengangkat Indonesia di negara lain harus dimulai darinya sendiri.

“Kita harus bangga menjadi Indonesia, kebanggan kita kepada Indonesia dengan tidak mengumbar kejelakkan Indonesia kepada negara lain, kebanggan adalah membangun Indonesia dengan penuh keikhlasan, dengan begitu kita bangga menjadi bagian dari turut membangun Indonesia dimata negara lain. Dan kebanggan adalah ketika kita pulang dari perantuan di negara lain kemudian disambut dengan tangan terbuka untuk membangun Indonesia, penyambutan bukan lagi kebanggan melainkan hak warga Indonesia,” ujar Lian Gouw.

Menutup dialog, pembicara utama, Islam Tionghoa Anton Medan menyatakan perjalanan hidupnya penuh dengan kebencian terhadap Tionghoa, karena dari masa lalunya. Ia merampok, membunuh dan bahkan pendukung Ahok ini pernah mendekam 12 kali penjara.

“Tapi ganasnya penjara Nusakambangan, Cipinang, Kedungpane dan lainnya itu hanya pengadilan yang sangat ringan dan kecil, tapi pengadilan akhirat nanti yang paling dahsyat. Dari perjalanan hidup dan ritual saya, saya akhirnya menjadi Islam dan saya mantan bajingan, saya Islam, saya bangga menjadi Tionghoa dan saya bangga menjadi warga Indonesia,” tandas Ketua Pembina Persatuan Islam Tionghoa Indonesia ini.

Pembina PSMTI pusat ini juga menyatakan dalam pergaulannya, ia tidak membedakan siapapun. Semua unsur dan golongan, baik nahdiyin maupun muhammadiyah, kristen maupun katolik dan lain sebagainya, semua ia rangkul.

“Apapun etnisnya, apapun agamanya, apapun golongannya dimata Allah adalah sama, yang membedakan adalah bagaimana ketaqwaan orang itu kepada Allah. Yang Kristen laksanakan ibadahnya dengan baik, yang kepercayaan laksanakan menurut keyakinannya. Karena tingkat ibadah itulah yang membedakan kita dimata Allah,” pesan Anton.

Dan persatuan, saling menolong, toleransi merupakan kunci utama kerukunan dalam membangun Indonesia menjadi lebih baik.

“Sebaliknya, membedakan orang lain, membedakan etnis dan suku, agama dan lainnya merupakan sumber perpecahan di Indonesia. Mari kita bangun Indonesia menjadi negara hebat, dan banggalah menjadi Tionghoa Indonesia,” pungkas Anton. (BJ)

Advertisements