Home Lintas Jateng Anggaran Minim Pengaruhi Kinerja dan Kualitas Lapas

Anggaran Minim Pengaruhi Kinerja dan Kualitas Lapas

P_20150521_101238
Semarang, 24/5 (BeritaJateng.net) – Persoalan kinerja dan kualitas lembaga pemasyarakatan (lapas) dan rumah tahanan (rutan) kini terus mendapat sorotan. Karena, minimnya anggaran berpengaruh pada sistem pembinaan di dalam lapas/ rutan itu sendiri.
Hal itu dibahas dalam ‘Rapat Penguatan Reformasi Birokrasi Kanwil Kemenkum-HAM Jateng 2015’ dengan menghadirkan Ka. Biro Perencanaan Kemenkum-HAM Sri Puguh Budi Utami, di Aula Kantor Kemenkum-HAM Perwakilan Jateng di Jalan dr Cipto Kota Semarang.
Sri mengakui sistem pembinaan di masing-masing lapas/ rutan belum berjalan dengan baik, terkait dengan masih minimnya anggaran kebutuhan dan belanja pegawai lapas/ rutan.
Ia mencontohkan ada salah satu lapas wanita yang belum melakukan pembinaan terhadap para narapidananya. Dampaknya, kondisi psikologis narapidana menjadi ‘terganggu’.
“Treatment/ pembinaan terhadap warga lapas masih rendah. Pasalnya, ada kejadian yang ‘luar biasa’ dimana sesama perempuan ‘saling menyanyangi’. Jadi, disaat suaminya menjenguk isterinya di lapas, sang isteri berperan sebagaimana mestinya tapi setelah itu sikapnya akan berubah lagi. Kondisi itu juga terjadi di lapas laki-laki.
Kondisi ini, menurut kita adalah hal biasa tapi tidak, ini adalah hal yang luar biasa. Kita harus bisa fokus pada treatmentnya agar orang normal masuk lapas maka keluarnya juga normal. Jangan melakukan pembiaran,” paparnya, dihadapan pejabat lapas dan rutan.
Untuk itu, ia meminta, setiap lapas/ rutan membuat rencana anggaran sehingga bisa diajukan ke pusat. Dengan begitu, persoalan minimnya alokasi anggaran dapat diselesaikan.
“Saya sarankan agar SDM yang ada di lapas bisa mengajukan usulan dan rencana sehingga pusat bisa memahami kondisi di daerah. Terutama, soal anggaran kebutuhan lapas dan belanja pegawai,” jelasnya.
Ia sendiri mengakui selama ini gaji pegawai dan anggaran lapas/ rutan tidak disesuaikan dengan kebutuhan lapas/ rutan dan kinerja pegawainya. “Seperti kebutuhan yang berbeda antara lapas wanita dan pria atau gaji pegawai lapas biasa dengan lapas narkotika,” terangnya lagi. (Bj05)