Home Kesehatan Anak Fobia Matematika??? Begini Cara Dampinginya..

Anak Fobia Matematika??? Begini Cara Dampinginya..

Jakarta, (BeritaJateng.net) – Sesuatu yang berhubungan dengan angka seringkali membuat orang pusing. Tak pelak, fobia terhadap pelajaran matematika dirasakan sebagian anak-anak. Tak jarang anak memakai berbagai jurus untuk menghindari pelajaran ini.

Mereka akan membuat bermacam alasan seperti mengantuk, lapar, dan ketika orang tua memaksanya anak akan cenderung sulit konsentrasi. Akibatnya, orang tua jadi ikut pusing saat mengajarkan matematika kepada anak-anak.

Padahal, matematika merupakan subjek universal yang berguna bagi beberapa studi lainnya seperti fisika, kimia, akunting, dan materi penting lainnya. Banyak pendapat menyebutkan seseorang yang dapat menguasai matematika akan memiliki performa baik pula dalam mata pelajaran lainnya.

Menurut Cially Tan, Manajer Kurikulum Math Monkey Indonesia, pada dasarnya anak hanya suka bermain, maka satu-satunya tip menghadapi anak-anak yang tidak menyukai matematika adalah dengan mengajak anak bermain sambil menyelipkan materi-materi menghitung tanpa disadari anak.

Dengan menciptakan suasana yang menyenangkan, anak dijamin tidak akan cepat bosan. Mengajarkan matematika tidak melulu harus menghafal, melainkan lebih mengutamakan kepada interaksi.

Dia percaya bahwa dengan kurikulum berbasis permainan akan meningkatkan kekuatan ingatan, melatih visualisasi, dan yang paling penting melatih kecepatan dan ketepatan anak dalam menyelesaikan soal.

Salah satu kurikulum matematika yang muncul dari India, Vedic Math memberikan kesempatan bagi anak untuk memilih caranya sendiri dalam menyelesaikan soal dengan lebih sederhana. Dengan cara seperti ini, anak-anak juga dilatih meningkatkan skill komunikasi, kognitif, perkembangan fisik, EQ, dan bahasa.

“Prinsip pertamanya adalah membuat anak-anak mencintai matematika. Jadi mindset-nya, enak sekali di kelas karena bisa bermain sehingga mereka senang, otomatis dia lama-lama menyukai,” ujarnya saat ditemui pada acara peresmian Math Monkey di Kemang, Jakarta Selatan.

Agar anak tak takut pada matematika, alangkah baiknya mengajarkan materi matematika sejak dini. Menurut Cially, usia terbaik untuk memulai belajar matematika adalah 3 tahun.

Studi yang dilakukan Universitas Missouri menunjukkan bahwa anak usia balita memiliki asosiasi yang baik dengan angka, seperti tiga dan empat, dan pemahaman mengenai penjumlahan terkait angka sejak awal memiliki peluang lebih besar untuk berhasil pada pendidikan selanjutnya.

Belajar matematika bagi balita bisa dimulai dengan perkenalan bentuk nol sampai 10, cara menulis, berhitung dari besar ke kecil dan sebaliknya.

Bagi usia lanjutan, mulailah dengan teknik mengajar cara cepat, seperti touch spot concept, perkalian khusus 11, menghitung cepat dengan jari, dan masih banyak lagi.

Orang tua yang kesulitan mengajari anaknya, bisa memasukkan anak ke program kursus matematika yang menawarkan program menarik dan didukung tenaga pengajar profesional.

Dengan mengikuti kursus dan belajar secara berkelompok, anak-anak diharapkan lebih menikmati proses belajar ketimbang belajar sendiri untuk menghindari rasa terintimidasi ketika melakukan kesalahan.

Agar lebih kondusif, ada baiknya satu kelas tidak lebih terdiri dari enam orang anak.

“Ukuran anak yang sudah mengerti adalah ketika bisa menjelaskan kembali cara penyelesaian suatu soal. Jadi yang perlu dilakukan orang tua sepulang anaknya les adalah menanyakan apa saja yang sudah diajarkan,” katanya.

Cially menyarankan bagi orang tua ataupun guru yang menghadapi anak cenderung sulit diatur dan semaunya sendiri adalah dengan tidak memarahinya, bahkan sampai menggebrak meja. Metode seperti itu tidak akan pernah efektif dan dikhawatirkan akan berdampak pada hilangnya minat anak untuk belajar.

“Kasih pengertian ke anak, dia ke tempat kursus mau apa. Kalau hanya untuk main lebih baik pulang. Anak-anak masih bisa diberi pengertian kok. Guru boleh tegas tapi jangan galak,” ujarnya.

Setelah belajar di kelas, anak-anak perlu diberikan PR sebagai media latihan sehingga tidak lupa dengan materi yang sudah diajarkan. Tentu, matematika bukan satu-satunya faktor utama dalam kesuksesan anak meraih masa depan, pendalaman terhadap materi pelajaran lainnya patut menjadi perhatian orang tua masa kini, pelajaran bahasa asing misalnya. (El)

Advertisements