Home Headline Anak Berkelamin Ganda Gegerkan Warga

Anak Berkelamin Ganda Gegerkan Warga

Kelamin Ganda-1

Semarang, 12/3 (BeritaJateng.net) – Kasus kerancuan kelamin atau Ambigus Genitalia yang terjadi pada salah satu keluarga asal Desa Sukasari, Rt 06/01, Kelurahan Bumijawa, kabupaten Tegal sempat menggegerkan public, pasalnya dari 6 anak pasangan Torikin (42) dan Seni (37), 4 diantaranya mengalami kelainan genetic kerancuan kelamin.

“Kasus ini sudah ditangani sejak tahun 2011 lalu, namun ada penambahan pasien yakni putra terakhir pasutri asal Kabupaten Tegal ini yang juga mengalami kerancuan kelamin,” ujar Prof Sultana Direktur Rumah Sakit Nasional Diponegoro Semarang.

Menurutnya, dalam penentuan jenis kelamin atau gender, pihaknya merasa harus lebih berhati-hati, sehingga dalam uji laboratorium pihaknya melibatkan ahli dan dokter terkait seperti dokter bedah, dokter anak, dokter anastesi, dokter bedah plastic, psikolog dan psikiater.

Dalam kasus yang terjadi kali ini, lanjut Sultana, terjadi kelainan genetic menurun yang di bawa si Ayah dan Ibunya. “Penyakit genetic itu tidak melulu menurun tapi dalam kasus ini merupakan  penyakit genetic menurun.  

Namanya Congenital Adrenal Hyperplasia (CAH) yakni kelainan pada kelenjar anak ginjal yang menyebabkan adanya eksposure endrogen atau hormon laki-laki yang berlebihan,” ungkanya.

Ia menambahkan, berdasarkan hasil laboratorium, dari 4 anak yang diperiksa genetic yang diperoleh adalah genetic perempuan XX, namun identitasnya tetap, ada yang laki-laki ada yang perempuan.

Pasangan Torikin dan Seni ini sebenarnya memiliki 10 anak, namun 4 diantaranya telah meninggal. Sedangkan 4 yang lain mengalami kelainan kerancuan kelamin atau Ambigus Genetalia, dan 2 anak yang lain sehat atau normal.

“Keempat anak yang meninggal, kami curigai juga mengalami penyakit yang sama, namun sudah akut dan tidak terobati, anehnya si bapak atau ibu ini tidak memiliki hubungan saudara. Tapi sama-sama membawa gen tersebut, bahkan sepupu atau kakak dari si ibu juga membawa hal yang sama. Yang di khawatirkan apakah mungkin di desa tersebut juga prevalensi yang tinggi sehingga keluarga yang bukan kerabat bisa memiliki penyakit yang sama,” lanjutnya.

Penyakit ini bisa diobati, tambah Sultana, dari total 800 penderita penyakit kelamin, 70 diantaranya terkena Congenital Adrenal Hyperplasia (CAH), dan ada satu pasien yang bisa sembuh total hingga menikah dan punya keturunan. Syaratnya pengobatan yang rutin, yang jadi kendala disini yakni obatnya tidak ada di Indonesia, sehingga sejak lebih dari 5 tahun ini pihaknya mencari dopping obat dari Belanda.

“Kami pernah mengusulkan Menteri Kesehatan untuk memenuhi obat ini di Indonesia, dan akhirnya tahun ini janjinya sudah terpenuhi, namun penyediaan obat bernama Hydro-Cortison hanya dalam keadaan darurat, dan hanya tersedia di RSCM,” paparnya.

Sementara itu, Ayah penderita Kerancuan Kelamin, Torikin saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya mendapat undangan dari pihak RS Nasional Diponegoro untuk melakukan kontroling pengecekan.

Dari kelima anaknya yang dibawa ke Laboratorium RS Nasional diponegoro, tiga diantaranya mengidap penyakit Ambigus Genetalia yakni Zakaria (12), Taufan Alhabid (4) dan Nur Iman (2), sedangkan Iklas Suni dan Alfiyah dinyatakan normal oleh tim ahli.

Selain itu, putri pertamanya bernama Siti Damaryanti (19) yang tengah menempuh studynya di Pondok Pesantren Jombang juga mengalami kerancuan kelamin. Menurut Torikin, kelainan muncul terutama pada payudara yang mulai hilang, suara Siti yang seperti laki-laki dan tumbuhnya kumis dan jambang pada wajah Siti Damaryanti tersebut.

Torikin yang bekerja sebagai buruh serabutan ini mengakui penyakit tersebut pertama kalinya muncul dari kerabatnya, Santi (40) yang juga mengalami penyakit serupa dan akhirnya dibawa ke Semarang tepatnya Laboratorium RS Nasional Diponegoro untuk di cek laboratorium, pada tahun 2012 Santi akhirnya sukses di operasi di RSUP dr Kariadi Semarang.

Perangkat desa kasi ekonomi desa Sukasari kelurahan Bumijawa kabupaten Tegal, Ullumudin (44) mengatakan, dirinya beserta rombongan keluarga berangkat dari Tegal menuju Semarang pukul 10 malam dan sampai pukul 4 pagi. Ia berharap pemerintah mau membantu pengobatan keluarga penderita Kerancuan kelamin ini, karena kondisi keluarga dan pekerjaan orang tua pasien yang hanya buruh serabutan. (BJ05)