Home Lintas Jateng Aktivis Tolak Konspirasi Kolonial Belanda di Event Pasar Sentiling Kota Lama

Aktivis Tolak Konspirasi Kolonial Belanda di Event Pasar Sentiling Kota Lama

Salah satu pengendara sepeda ontel melintas didepan Gereja Blenduk Kota Lama Semarang

Semarang, 22/9 (BeritaJateng.net) – Sejumlah aktivis dan pemerhati sejarah mengendus adanya penyusupan agenda konspirasi kolonial Belanda di event Pasar Malam Sentiling Kota Lama Semarang yang digelar pada 16-18 September 2016 lalu. Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang yang turut memfasilitasi event tersebut, dinilai salah kaprah dalam memahami esensi sejarah.

Sebab, Sentiling berasal dari ‘Koloniale Tentoonstelling’, merupakan sebuah event peringatan akbar 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis yang diadakan di tanah jajahannya, Hindia Belanda (Indonesia) pada 1914.

Setahun sebelum event tersebut, ide gagasan ini diprotes oleh perintis kemerdekaan Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara). Akibat penolakan itu, Soewardi kala berusia 24 tahun sempat ditangkap dan dibuang ke Pulau Bangka, selanjutnya diasingkan ke Belanda. Sepanjang pelaksanaan Sentiling di Semarang, Soewardi Soerjaningrat masih dalam masa pembuangan.

“Cukup mengherankan kalau Pemerintah Kota Semarang beberapa tahun belakangan ini justru memfasilitasi penyusupan event yang pernah diprotes Soewardi Soerjaningrat. Kenapa yang diperingati bukan gagasan Soewardi Soerjaningrat kontra Kolonial Sentiling, tetapi malah justru merayakan kemegahan peristiwa Kolonial Sentiling era kejayaan kolonialisme Belanda di Indonesia. Ini kan terbalik,” kata salah satu aktivis sejarah yang tergabung dalam Aliansi untuk Kebebasan Berekspresi, Yunantyo Adi, di Gedung DPRD Kota Semarang untuk mengajukan permohonan audiensi, Rabu (21/9).

Dikatakannya, event ini telat dihelat pada 19-21 September 2014 di Kawasan Kota Semarang diadakan Festival Kota Lama mengangkat tema Napak Tilas 100 Tahun Koloniale Tentoonstelling 1914.

Pada 19–20 September 2015, kembali diadakan Festival Kota Lama Semarang dengan mengangkat tema Sentiling  menempati lokasi di sekitar Gereja Blenduk dan Taman Srigunting. Event tersebut mengusung isu menghidupkan kawasan Kota Lama Semarang agar dapat diakui Internasional menjadi kota warisan dunia (World Heritage City) di tahun 2020 nanti.

“Saat peringatan Pasar Malam Sentiling tahun 2014 silam, saya gencar menyindir Pemerintah Kota Semarang dan rekan-rekan penyelenggara. Tapi saya tidak habis pikir, hingga tahun ini (2016), event yang nyata-nyata berlabel Pasar Malam Sentiling ini masih difasilitasi oleh Pemerintah Kota Semarang dalam hal ini Disbudpar,” ungkap dia.

Belasan tahun silam, kata Yunantyo, Pemerintah Indonesia didesak memrotes penyelenggaraan “Perayaan 4 Abad VOC” yang diadakan di negeri Belanda. Duta Besar Indonesia di Belanda, Abdul Irsan, atas kesadaran nasionalismenya akhirnya memilih tidak menghadiri acara perayaan yang dilaksanakan sepanjang tahun 2002 itu. Irsan benar, sebab dipandang dari sudut manapun, VOC atau juga akrab disebut orang-orang tua bangsa Indonesia menyebutnya Kompeni, merupakan bagian tak terpisah dari kolonialisme Belanda di Nusantara.

“Dari Abdul Irsan itulah, saya mendapati adanya indikasi keinginan Belanda yang tampaknya punya kepentingan melestarikan peninggalan sejarah maupun budayanya di Indonesia, bukan hanya warisan kebendaan berupa bangunan, situs, benda, dan kawasan, melainkan juga warisan nonbenda seperti halnya peringatan 4 abad VOC,” katanya.

Sepanjang Irsan ketahui, lanjut Yunantyo, Belanda diam-diam telah menggunakan agen-agen kebudayaannya di Indonesia. Baik LSM-LSM dan organisasi swasta untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan di Indonesia yang dikaitkan dengan peringatan 4 abad VOC, tentu dengan biaya Belanda. “Merayakan Sentiling, sama halnya merayakan kemegahan VOC pada era kejayaan Kompeni di Nusantara,” ujarnya.

Lebih lanjut, kata dia, apapun kepentingan Belanda melalui agen kebudayaannya di Indonesia termasuk Semarang dengan menyusupkan agenda Kolonial Sentiling, dan terlebih difasilitasi oleh Pemerintah Kota Semarang, harus ditolak. “Kalau KBRI di Den Haaq saja bisa mengambil sikap tegas atas perayaan 4 abad VOC itu adalah penghinaan bagi Indonesia, ini kok malah Pemerintah Semarang dan Kemenpar RI merayakan peristiwa Kolonial Sentiling bersama agen-agen kebudayaan kolonialis dan sponsornya. Itu kan sama saja Pemerintah Kota Semarang merayakan peristiwa penghinaan terhadap diri bangsa Indonesia dengan penuh bangga,” ungkapnya.

Selain itu, agenda keinginan menjadikan Kawasan Kota Lama Semarang sebagai World Heritage di Unesco perlu dikaji ulang. Menurut Yunantyo, dimasukkannya bangunan-bangunan peninggalan kolonial di Kota Lama ke Unesco, adalah upaya membersihkan jejak ‘sejarah kelam’ tentang kebiadaan kolonial yang pernah membantai, ataupun merampok bangsa ini. “Seharusnya, Kota Lama menjadi kawasan Cagar Budaya Negara. Itu saja, tidak perlu dimasukkan Unesco. Kami mendukung Kota Lama dihidupkan. Bangunan-bangunan di Kota Lama dipugar sesuai aturan, kami setuju. Pelestarian Kota Lama wajib hukumnya, tapi menolak Sentiling juga wajib. Kami tidak mempermasalahkan adanya event festival di Kota Lama. Hanya saja substansi event Sentiling di Kota Lama ini yang bermasalah. Ini harus diluruskan,” tegas dia.

Dia berharap, penyelenggaraan Festival Kota Lama ke depan tidak ada lagi peringatan Kolonial Sentiling. “Hal ini demi menghormati nasionalisme Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara). Pemerintah Kota Semarang jangan terbawa arus kekuatan Belanda. Apalagi jika menerima pendanaan Sentiling, itu yang bermasalah,” tegasnya.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang Supriyadi mengatakan, pihaknya menerima masukan dari para aktivis sejarah terkait perhelatan Pasar Malam Sentiling di Kota Semarang untuk menjadi evaluasi. Sejauh yang ia ketahui, event Sentiling dilaksanakan untuk meramaikan Kota Lama. Sehingga tidak sampai ke kajian tentang esensi sejarah seperti yang dimaksud. “Event ini tidak murni berasal dari Pemkot. Tapi memang ada EO (Event Organizer), yakni dari Oen (Toko Oen Semarang). Ada beberapa sponsor. Pemkot hanya membantu memfasilitasi untuk sewa sound,” kata Supriyadi saat menerima perwakilan aktivis.

Pihaknya akan menampung usulan dari para aktivis sejarah dan akan memfasilitasi untuk dilakukan audiensi dengan melibatkan sejumlah tokoh sejarawan, budayawan, aktivis sejarah, panitia penyelenggara Pasar Sentiling dan Wali Kota Semarang. “Kami carikan waktu yang tepat. Ini masukan dan menjadi evaluasi yang bagus. Agar semuanya tahu tentang sejarah,” katanya. (Bj)