Home Ekbis Aktifitas Pelelangan Ikan di TPI Pati Sepi

Aktifitas Pelelangan Ikan di TPI Pati Sepi

TPI pati

Pati, 3/3 (BeritaJateng.net) – Aktivitas masyarakat di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Bajomulyo, Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, relatif sepi sejak nelayan dilarang menggunakan jaring pukat hela dan tarik saat menangkap ikan.

Seorang pedagang ikan di TPI Bajomulyo, Suparmi, di Pati, Selasa, mengatakan aktivitas pelelangan ikan di TPI setempat memang sepi sejak adanya pelarangan penggunaan jaring cantrang itu, sedangkan banyak pekerja yang harus menganggur karena tidak ada hasil tangkapan nelayan.

Padahal, kata dia, mayoritas nelayan di Juwana menggunakan jaring cantrang yang dilarang oleh Menteri Kelautan dan Perikanan lewat Permen nomor 2/2015 tentang larangan penggunaan alat tangkap ikan pukat hela dan pukat tarik.

Akibatnya, kata dia, ikan hasil tangkapan nelayan yang bisa dilelang juga terbatas karena disesuaikan dengan jumlah nelayan yang melaut.

Sebelum ada larangan, kata dia, transaksi jual beli ikan setiap hari bisa mencapai 10 ton, kini hanya satu ton dan disesuaikan dengan jumlah hasil tangkapan nelayan.

“Penurunan transaksi tersebut, cukup beralasan karena kapal yang bersandar di TPI biasanya bisa cukup banyak, kini hanya dua hingga tiga kapal,” ujarnya.

Hasil tangkapan nelayan yang menggunakan jaring yang dilarang dan tidak, kata dia, biasanya dikombinasikan agar harga bahan baku yang diperoleh untuk diproduksi menjadi produk tertentu tidak terlalu mahal biayanya.

Pembeli ikan di TPI, biasanya menggunakan ikan sebagai bahan baku untuk pembuat suri mi, empek-empek, serta tepung ikan dan ada pula hanya dijual ke luar negeri dalam bantuk sirip kering.

Akibatnya, kata dia, harga jual ikan justru turun karena banyak pembeli dari luar kota yang menginginkan ikan dalam jumlah besar tidak bersedia membeli karena rugi biaya transportasi jika hanya mengangkut ikan dalam jumlah sedikit.

Dampak pelarangan tersebut, kata dia, tidak hanya dialami langsung para nelayan, karena pedagang dan kuli angkut dan “fillet” ikan di TPI juga menganggur.

“Aktivitas di TPI yang biasanya ramai hingga pukul 12.00 WIB, kini pukul 10.00 WIB sudah mulai sepi karena tidak ada hasil tangkapan yang bisa diperjual belikan,” ujarnya.

Sumijah, pedagang ikan lainnya, mengakui sejak ada larangan penggunaan jaring cantrang, aktivitas jual beli ikan di TPI Bajomulyo sepi dan banyak pekerja yang harus menganggur karena biasanya mereka bekerja sesuai jenis ikan hasil tangkapan nelayan.

“Banyak nelayan yang tidak bisa melaut karena tidak bisa mengurus perizinan,” ujarnya.

Ia mengaku ikut merasakan dampak pelarangan penggunaan alat tangkap ikan jaring pukat hela dan tarik karena mayoritas nelayan menggunakan alat tersebut.

Daryati, salah seorang pekerja fillet ikan, mengaku harus pulang lebih awal karena tidak ada hasil tangkapan nelayan menyusul adanya larangan menggunakan jaring pukat hela dan tarik.

“Biasanya ketika ramai pulang hingga sore hari, kini pukul 10.00 WIB sudah harus pulang karena nelayan yang melaut juga terbatas sehingga hasil tangkapannya juga sedikit,” ujarnya. (ant/BJ)