Home Hukum dan Kriminal Aksi Pungli Preman Pedagang di Lingkungan Taman KB

Aksi Pungli Preman Pedagang di Lingkungan Taman KB

Dok. BeritaJateng.net

Semarang, 23/8 (BeritaJateng.net) – Sejumlah pedagang diluar shelter yang berjualan di kawasan Kantor Gubernur Jateng tepatnya jalan Menteri Supeno Semarang gusar. Pasalnya, mereka akan digusur oleh tim gabungan Satpol PP, TNI, Polri dan Dinas Pasar Kota mulai pukul 00.00 WIB.

Padahal mereka mengaku telah membayar rutin perbulannya kepada oknum preman yang kisaran Rp 300 ribu, bahkan banyak yang mengaku telah membeli lahan yang jumlahnya mencapai Rp 5 juta kepada preman setempat.

“Saya ke sini mau minta keadilan, saya setiap bulan mbayar Rp 350 ribu. Mosok dengan seenaknya digusur,” ujar salah seorang pedagang saat mendatangi kantor Wartawan di komplek Gubernuran jalan Pahlawan Semarang.

Kenapa mau membayar ke preman ? Pedagang dengan kompak mengatakan karena berjualan merupakan mata pencaharian dan kalau tidak membayar maka tidak diperbolehkan berjualan.

“Kalau tidak membayar, nggak bisa jualan di sana, karena kan lahan yang digunakan untuk jualan disediakan oleh preman tersebut,” tambah pedagang lain yang enggan disebutkan namanya.

Apakah ada jaminan kalau terjadi sesuatu ? Pedagang mengaku selama ini tidak ada perkataan jaminan jika terjadi sesuatu misalnya penggusuran. Namun demikian, para pedagang telah berjualan selama 6 tahun.

“Sekian tahun berjualan tidak ada apa-apa, makanya kita juga senang aja membayar ke preman,” tambahnya lagi.

Apakah selama ini membayar retribusi ke Pemkot ? Pedagang mengaku tidak pernah dimintai retribusi oleh kelurahan, kecamatan maupun dinas pasar. Mereka hanya membayar bulanan kepada preman yang memiliki wilayah atau lahan.

Para pedagang non shelter menduga aksi penggusuran tersebut karena adanya laporan dari paguyuban pedagang shelter. Namun demikian, di dalam pedagang shelter juga terjadi aksi pungutan liar. Bahkan informasi dari pedagang, aksi pungli juga dilakukan oleh Ketua Paguyuban Pedagang Shelter, Sumarlan.

“Pedagang shelter juga mengeluh oleh aksi yang dilakukan oleh Ketua Paguyuban Pedagang Shelter, antara lain jam mulai berjualan, semua dilarang berjualan sebelum jam 4 sore, namun Pak Sumarlan sendiri berjualan mulai jam 11.00 WIB,” ujar salah seorang pedagang yang enggan disebutkan namanya.

Ironisnya lagi, Sumarlan memiliki 8 shelter di taman KB yakni shelter 1,5,6,7,8,9,20,23 namun infonya yang nomor 20 telah dijual seharga Rp 55 juta.

Tidak hanya itu, Sumarlan juga melakukan pungutan liar kepada seluruh pedagang shelter yang hendak memperpanjang surat ijin usaha ke dinas pasar Kota Semarang, padahal informasi yang didapat pedagang, perpanjangan surat ijin tersebut tidak membayar.

“Setiap pedagang yang akan memperpanjang surat ijin usaha dimintai Rp 150 ribu, padahal ngurus ijin di dinas pasar tidak dikenakan biaya,” tambah pedagang yang lain.

Sementara itu Kepala Dinas Pasar Trijoto Sardjoko belum bisa dikonfirmasi, saat dihuhungi handphone tidak merespon. (BJ)

Advertisements

3 COMMENTS

  1. Setelah saya cek didata perijinan pkl tidak ada yg satu orang memiliki ijin lebih dari satu, jadi tdk benar kalau ada satu orang yg memiliki ijin sampai delapan, perpanjangan ijin pkl shelter itu blm ada, yg ada adalah penerbitan ijin yg pertama kali dan itu tanpa dipungut biaya alias gratis.

  2. Makanya cek lapangan…bgimana pedagang bisa lebih percaya dgn preman…dinas pasar pk.Triyoto harus berani bongkar ini..tangkap preman..tertibkan..tata lokasi..masa negara kalah dengan preman..Sdah.6thun.preman menguasai ini….kesannya…pembiaran…ada kerjasama dgn oknum….dan dinas loyo..tdak mampu…apa guna satpol.pp..polisi dimintai bantuan dong.Hayo dinas pasar bangkit tujukkan..manda punya wibawa.semoga.

Comments are closed.