Home Lintas Jateng Agar Kunjungan Wisata Naik, Tata Nilai Destinasi Pariwisata Perlu Diangkat 

Agar Kunjungan Wisata Naik, Tata Nilai Destinasi Pariwisata Perlu Diangkat 

Diskusi pegiat wisata dengan Prie GS.
         Semarang, 29/1 (BeritaJateng.net) – Banyak pengelola wisata saat ini yang melupakan tata nilai dasar dari sebuah kepariwisataan. Hal itu disampaikan motivator Prie GS di sela Coffee Morning Pegiat Wisata yang digelar di Hotel Aston Inn Pandanaran.
         Menurutnya, tata nilai tersebut merupakan ruh yang mampu memunculkan sikap turistik. “Lah kalau sudah turistik, bahkan konon diduduki Plato di Yunani, jadi tempat wisata terkenal. Gua Hiro dan Gua Kreo, itu jauh lebih bagus Kreo. Namun karena memiliki nilai, baik batu dan gua Hiro itu jauh lebih banyak pengunjungnya,” terangnya.
          Dijelaskan, tata nilai sebagai ruh ini akan menjadi tuntunan bagi pengelola untuk mewujudkan konsep seperti yang diinginkan para turis. Tata nilai itu dengan sendirinya akan memunculkan keunikan dan perbedaan mendasar yang tidak dimiliki destinasi wisata lain.
           Lebih dari itu, pengelola wisata juga harus konsisten dalam melakukan kreativitas dan inovasi. Dedikasi yang diberikan, diyakini akan memberikan efek positif dengan sendirinya selama pengelola memegang teguh nilai-nilai di atas.
         “Seperti Maerakaca misalnya. Mengapa tidak dikonsep sebagai eco-tourism dengan mengoptimalkan hutan mangrove yang ada? Konsep detilnya seperti apa, ya monggo dipikirkan,” tukasnya.
           Gerakan dan aktivitas pariwisata sebaiknya pula tidak hanya pada fisik namun lebih menekankan pada ideologi. Ia tidak menganggap salah sebuah trik destinasi wisata yang menampilkan spot yang instagramable namun ada baiknya ditunjang dengan konsistensi karena kalau hanya sekedar spot unik, tempat lain juga menawarkan hal serupa.
            Menjadi diri sendiri dengan menonjolkan kearifan lokal, juga dapat menjadi solusi lain untuk meningkatkan daya kunjung pariwisata ke Kota Semarang.
           Lebih dari itu, ia berpesan agar seluruh Komunitas Pegiat Wisata tidak terintimidasi hal dari luar diri serta konsisten menyebarkan kebaikan di bidang pariwisata. “Kampanye membuang sampah bisa juga menjadi salah satu daya pengungkit,” imbuhnya.
         Koordinator Pegiat Wisata Kota Semarang Gus Wahid menambahkan jika coffee morning merupakan agenda rutin bulanan. Kegiatan ini mempertemukan seluruh elemen wisata kota ini baik dari sektor pengelola destinasi, pemerintah hingga wisatawan.
         Ia berharap, kegiatan ini dapat menjembatani kepentingan banyak pihak bahkan juga dapat memberikan kritik dan saran terkait kebijakan pariwisata kota ini. Kehadiran Prie GS diyakininya mampu memberikan suntikan moral bagi Pegiat Wisata terutama di awal tahun untuk terus memberikan kontribusi positif bagi kota ini.
           “Mumpung awal tahun, kami hadirkan pakar motivator dan public speaking. Jadi agak berbeda dengan coffee morning sebelum-sebelumnya yang lebih banyak berdikusi perkembangan dan persoalan wisata di Semarang,” tandasnya. (Bj/El)