Home Hukum dan Kriminal Sidang Sengketa, Warga Ruwat PN

Sidang Sengketa, Warga Ruwat PN

Warga melakukan ruwatan di Halaman PN Kendal.
Warga melakukan ruwatan di Halaman PN Kendal.
Warga melakukan ruwatan di Halaman PN Kendal.

Kendal,14/1 (Beritajateng.net)  – Ratusan petani Desa Pesaren Kecamatan Sukorejo kembali mendatangi Pengadilan Negeri Kendal dengan menggelar ritual tolak penyerobotan lahan yang ditudingkan kepada warga. Aksi tersebut merupakan dukungan kepada 10 warga yang dilaporkan perusahaan perkebunan. Rabu (14/1) kemarin.

Ritual ruwatan yang dilakukan warga di depan pintu kantor PN Kendal dimaksudkan agar bertindak adil dan berpihak kepada rakyat pemilik lahan yang disengketakan. Selain membawa sesaji, mereka juga membawa hasil bumi dari lahan yang disengketakan antara warga Pesaren Kecamatan Sukorejo dengan PT Sukarli Nawa Putra.

Salah seorang aktivis berlagak seperti dukun membacakan matera agar hakim tidak terintervensi oleh penguasa, sehingga dakwaan perusahaan perkebunan kepada 10 warga benar-benar terbukti. Dengan menegenakan sorban dan berjubah serba hitam, sang dukun menyebar beras kuning menghalau setan yang akan mengintervensi kasus sengketa  lahan seluas 16 hektare itu.

Menurut salah satu petani, Ropi’i, tujuan ruwat di PN Kendal yakni agar PN. Kendal terbebas setan-setan yang bisa mempengaruhi putusan sidang. Selaku penggugat, dia mengaku, ada 10 petani yang digugat oleh PT. Sukarli Nawa Putra. Padahal 10 petani itu, adalah pemilik tanah yang syah.

“Ada 10 petani yang digugat oleh PT Sukarli Nawa Putra, termasuk saya. Padahal, kami pemilik tanah yang kami garap itu,” kata Ropi’i.

Ropi’i menjelaskan, sebenarnya ada 74 petani yang menggarap tanah yang dipersoalkan oleh PT Sukarli Nawa Putra.  Luas tanah itu, seluas 16 hektar. “Kami adalah ahli waris tanah yang sah,” tambahnya.

Apa yang dikatakan oleh Ropi’i, dibenarkan oleh salah satu petani lain yang juga sebagai warga tergugat yakni Trisminah. Dia mengatakan,  gugatan yang dilakukan PT Sukarli Nawa Putra sungguh tidak beralasan. Sebab tanah yang digarap oleh petani itu, adalah milik warga.

“Gugatan PT Sukarli Nawa Putra salah alamat dan Sidang hari ini akan mengagendakan pembuktian penggugat,” tambahnya.

Trisminah menjelaskan, sidang kasus tanah antara petani dan PT. Sukarli Nawa Putra ini, sudah berjalan yang ke 6 kalinya. Untuk sidang hari ini, adalah mendengarkan para saksi yang didatangkan oleh penggugat.

Sengketa bermula saat PT Sukarwali Nawa Putra dengan tiba-tiba merampas lahan  dari petani pada 1970 silam. Saat itu ada sedikitnya 74 kepala keluarga yang menggarap lahan tersebut, semua surat letter D milik petani diminta oleh kepala desa dan tidak tahu dibuat apa. Hingga akhirnya muncul sengketa dan konflik hingga petani tidak lagi menggarap lahan. (BJ19)