Home Lintas Jateng 80 persen Kedisiplinan Anak Hilang Selama Pembelajaran Daring

80 persen Kedisiplinan Anak Hilang Selama Pembelajaran Daring

Rakor Forum Media Sayang Anak dan Perempuan, yang diselenggarakan oleh DP3A Kota Semarang

Semarang, 19/10 (BeritaJateng.net) – Hampir 80 persen kedisiplinan anak hilang selama mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ).nKarakter anak pun perlu kembali dibentuk agar mereka bisa bersemangat dalam menuntut ilmu.

Hal itu disampaikan Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang, Dyah Ratna Harimurti, saat menjadi narasumber dalam Rakor Forum Media Sayang Anak dan Perempuan, yang diselenggarakan oleh DP3A Kota Semarang, di Dafam Hotel.

“Anak-anak tidak belajar tatap muka sudah hampir dua tahun. Mereka kehilangan rasa disiplin. Mereka bangun siang, tidak mandi. Disiplinnya hilang hampir 80 persen,” ujarnya.

Menurutnya, peran orang tua sebagai lingkaran pertama pendidikan anak sangat diperlukan. Orang tua bertanggung jawab untuk mendukung anaknya agar kembali semangat sekolah.

Pasalnya, selama PJJ atau daring, anak-anak terbiasa menjelajah internet dalam mengerjakan tugas.

“Orang tua menjadi nomor satu yang harus support anak. Kalau orang tua tidak support, apalagi guru atau pemerintah. Ring pertama orang tua,” tegasnya.

Di samping itu, sambungnya, membangkitkan semangat anak perlu didukung pula dengan kegiatan di sekolah.

Pembelajaran tatap muka (PTM) tidak melulu menerima materi pembelajaran. Anak-anak membutuhkan ruang untuk membangkitkan semangat.

Pihak sekolah perlu melakukan upaya untuk mengembangkan ide dan kreatifitas peserta didik, semisal dengan perlombaan sederhana maupun classmeeting.Tentu, dengan memperhatikan protokol kesehatan.

Kerja tim harus dikenalkan kembali agar tidak canggung. Kita siapkan mereka ke depan hidup normal. Ide dan kreatifitas harus dipacu,” tambahnya.

Di sisi lain, Sekda Kota Semarang, Iswar Aminuddin menambahkan, peran media dalam membangun Kota Semarang sangat penting. Sayang perempuan dan anak menjadi program pemerintah pusat.

Pemkot pun mencoba agar kekerasan terhadap anak bisa dikendalikan. Meski Kota Semarang telah mendapatakan penghargaan pengarustamaan gender, menurutnya, perempuan dan anak tetap menjadi perhatian Pemkot.

“Penghargaan sebagai bonus. Kami bergerak tujuannya dalam rangka membangun kebersamaan, kita harus perhatikan perempuan dan anak agar mereka hidup happy tanpa ada kekerasan,” terangnya. (Ak/El)