Home Lintas Jateng 40 KK Warga Semarang Khawatir Terancam Longsor

40 KK Warga Semarang Khawatir Terancam Longsor

Sejumlah Rumah Warga Dengan Kondisi Tebing Tergerus Air

Semarang, 11/2 (BeritaJateng.Net) – Dua rumah di Perumahan Bukit Menjangan Asri RT 13 RW 2 Kelurahan Kalipancur, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, tertimpa talud longsor dalam sepekan ini. Talud setinggi kurang lebih 15 meter dan lebar 10 meter, ambrol menimpa atap rumah bagian belakang.

Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam musibah yang terjadi setelah hujan deras disertai angin kencang tersebut. Keduanya adalah rumah milik Sugeng Ashadi, 55, dan Rudi, 28. Penghuni dua rumah tersebut langsung dievakuasi dan terpaksa mengungsi karena dikhawatirkan terjadi longsor susulan.

Bahkan tidak hanya dua rumah tersebut, permukiman padat penduduk yang berada di tanah bertebing itu telah lama berhadapan dengan risiko tanah longsor.

Sebanyak kurang lebih 40 kepala keluarga (KK), seringkali diliputi rasa waswas dan khawatir karena setiap saat bisa terancam bencana tanah longsor.

“Saat kejadian saya sedang tidur di kamar. Beruntung, lokasi kamar berada di ruangan depan. Saya sontak langsung terbangun mendengar suara gemuruh. Begitu bangun, kondisi rumah bagian belakang telah hancur tertimpah reruntuhan batu cor talud,” kata Sugeng Ashadi.

Sebelum talud longsor, kata dia, kondisinya hujan deras disertai angin kencang. Tetapi saat talud longsong, hujan sudah dalam kondisi reda. “Hujan gerimis sejak sore. Mulai pukul 21.00 – 00.00 hujan deras disertai angin, listriknya sempat mati. Setelah hujan reda baru longsor. Saya langsung berlarian keluar rumah. Saat kejadian, saya di dalam rumah bersama istri (Cici Kadariah) dan cucu (Haikal),” katanya.

Akibat kejadian tersebut, atap rumah bagian belakang ambrol tertimpa reruntuhan batu talud. Terutama di ruang dapur dan kamar mandi. “Barang peralatan rumah tangga hancur,” katanya.

“Talud ini berusia lebih dari 8 tahun sejak perumahan dibangun sudah ada. Dulu yang membangun developer perumahan. Ini kejadian yang kesekian kali di RT sini. Sedikitnya sudah lima kali longsor di titik berbeda, selama kurun waktu lima tahun terakhir,” katanya.

Sejauh ini, kata dia, pihak developer tidak pernah mengurusi permasalahan longsor yang dihadapi warga perumahan setempat. “Ada sebanyak 40 KK di RT sini. Kami semua seringkali khawatir kalau tiba-tiba longsor. Terutama saat hujan turun. Soalnya, dulu ini daerah bukit dikepras dijadikan perumahan. Depan rumah jurang, belakang tebing,” katanya.

Lebih lanjut, kata dia, rata-rata warga di perumahan tersebut masih berstatus kredit. Sejumlah warga di kawasan setempat hanya bisa pasrah dan berdoa agar tidak terjadi musibah longsor. Dia bersama warga lain berharap ada perhatian dari Pemerintah Kota Semarang untuk melakukan pembangunan talud. Sebab, kondisi warga setiap saat waswas karena terancam longsor.

“Kalau hujan, warga sini tidur tidak di ruangan yang dekat tebing talud. Harapannya, ke depan bisa dilakukan perbaikan agar warga aman,” kata pria yang kesehariannya bekerja di percetakan photo ini. (El)

Advertisements