Home Headline 24 Kios PKL Simongan Dibongkar Satpol PP Kota Semarang

24 Kios PKL Simongan Dibongkar Satpol PP Kota Semarang

Satpol PP Kota Semarang melakukan eksekusi pembongkaran lapak PKL Simongan.

Semarang, 28/6 (BeritaJateng.net) – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Semarang melekukan eksekusi dan pembongkaran 24 lapak pedagang kaki lima (PKL) kampung Karangjangkang, Kelurahan Ngemplak Simongan, Semarang, Senin (28/6) pagi.

Satu unit alat berat dan puluhan personil Satpol PP diterjunkan untuk mengeksekusi kios PKL Simongan tersebut.

Pantauan BeritaJateng, sebanyak 21 lapak kios PKL telah dikosongkan oleh pemiliknya sehingga memudahkan petugas untuk merobohkan bangunan, akan tetapi 4 kios justru masih dihuni pemiliknya.

Petugas Satpol PP lantas membantu mengeluarkan perlengkapan dan barang-barang milik Mansur, Darpo dan Nyoman di kiosnya.

Ketegangan dan adu mulut sempat mewarnai eksekusi pembongkaran PKL Simongan. Berkat kesigapan petugas, pembongkaran kios dapat terlaksana dengan lancar.

Ketua Paguyuban PKL Simongan Blok A, Edi Hermawan mengatakan jika proses eksekusi telah melalui proses mediasi. Bahkan telah diputuskan tali asih sebesar Rp. 15juta untuk setiap kiosnya.

“Tanggal 24 Mei lalu telah dilakukan penyegelan oleh Satpol PP Kota Semarang. Kemudian kami bersama kuasa hukum akhirnya menyepakati tali asih sebesar Rp. 15juta perkios,” ujar Edi.

Menurut Edi, dari 24 PKL yang ada, masih ada empat PKL yang bertahan. “Kurang tahu alasannya. Tapi akhirnya (PKL,Red) dibongkar juga kan. Keempat kios itu milik pak Mansur dua kios, pak Darpo dan pak Nyoman. Mereka belum dapat tali asih karena mempertahankan sesuai proses hukum,” ungkap Edi.

Edi mengaku telah menempati kios tersebut hampir 20 tahun. “Warga belum tahu ini lahan milik siapa, waktu dulu itu masih lahan kosong sehingga didirikan bangunan permanen untuk berjualan,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Satpol PP Kota Semarang, Fajar Purwoto menjelaskan jika pembongkaran kios PKL di Simongan sesuai prosedur yang berlaku.

Satpol PP Kota Semarang telah mengantongi rekom segel dan rekom bongkar, bahkan telah melakukan mediasi pada kedua belah pihak agar tidak ada yang merasa dirugikan.

“Jadi gini mas, di tanah itu ada sertifikat atas nama Putut Sutopo. Dia sudah mengajukan ke Distaru. Kami hanya menegakkan Perda untuk mengembalikan tanah itu pada pemiliknya sesuai prosedur yang berlaku. Warga sendiri sudah menggugat ke PTUN namun ditolak, sehingga setelah melakukan mediasi antara warga dan pemilik tanah dan pemberian tali asih maka hari ini kami bongkar,” jelasnya.

Menurut Fajar, ada 24 lapak PKL yang dibongkar dengan 21 pemilik yang menyetujui dan menerima tali asih sedangkan tiga lainnya masih menunggu proses hukum.

“Kita ratakan, 24 kios PKL tapi yang 75 bangunan ditanah belakang akan kita bongkar pekan depan, karena ada rekom bongkar. Taati aturan pemerintah, tugas kami adalah melaksanakan dan menegakkan Perda,” ujarnya.

Seperti yang diwartawan sebelumnya, Satpol PP Kota Semarang telah melakukan penyegelan terhadap 75 rumah dan 24 lapak PKL, Senin (24/5/2021) lalu.

Penyegelan itu dilakukan karena warga diduga tak memiliki hak kepemilikan tanah. Sementara itu, tanah yang ditinggali warga tersebut atas nama Putut Sutopo.

Sebelumnya, pada tanggal 06 Januari 2021, Pemerintah Kota Semarang menerima Surat Aduan dari Kantor Hukum Jantra Keadilan perihal permohonan dilakukannya pendataan terhadap warga yang tinggal di Kelurahan Ngemplak Simongan yang menempati lahan milik Putut Sutopo seluas 8.200 m2 dengan cara mendirikan bangunan permanen dan semi permanen.

Kemudian ditindak lanjuti Distaru Kota Semarang dengan melakukan mediasi antara warga dan pemilik tanah untuk negosiasi dan memberikan tali asih. (Ak/El)