Home Lintas Jateng 17 Februari, Jalan Pemuda, Imam Bonjol dan Pierre Tendean Semarang Jadi Satu...

17 Februari, Jalan Pemuda, Imam Bonjol dan Pierre Tendean Semarang Jadi Satu Arah

Kasatlantas Polrestabes Semarang AKBP Catur Gatot Effendi Memberikan Penjelasan Terkait Perubahan Jalur

Semarang, 14/2 (BeritaJateng.net) – Dinas Perhubungan Kota Semarang menyebutkan pemberlakuan jalur searah akan bertambah di tiga jalan, yakni Jalan Pemuda, Jalan Imam Bonjol, dan Jalan Pierre Tendean di ibu kota Provinsi Jawa Tengah itu mulai 17 Februari 2017.

“Ini merupakan tahap ketiga pemberlakuan jalur searah,” kata Kepala Bidang Lalu Lintas Dishub Kota Semarang, Kusnandir, saat menjadi pembicara diskusi interaktif Sindo Prime Topic bertema “Manajemen Lalu Lintas” di Semarang.

Pada tahap pertama, jalur searah diberlakukan di empat ruas jalan, yakni Jalan Veteran, Jalan dr Kariadi, Jalan MT Haryono, dan sebagian Jalan Menteri Supeno, kemudian tahap kedua di Jalan Gajahmada, Jalan MH Thamrin, dan Jalan Ahmad Dahlan.

Dengan semakin terintegrasinya sistem jalur searah itu, ia meyakini kendala kepadatan dan kemacetan kendaraan di sejumlah titik yang selama ini kerap terjadi akan bisa terurai sehingga arus lalu lintas menjadi lebih lancar.

Untuk tahap ketiga, Jalan Pemuda akan dibuat satu arah mulai dari Johar menuju Tugu Muda melewati depan Balai Kota Semarang sehingga masyarakat yang akan menuju pusat pemerintahan itu dari arah Bandara memang harus memutar.

“Ya, kalau dari Bandara mau ke Balai Kota harus memutar dulu, lewat Jalan Imam Bonjol atau Jalan Indraprasta, kemudian Jalan Pierre Tendean, baru berputar ke arah Jalan Pemuda. Tidak bisa langsung masuk dari arah Tugu Muda,” katanya.

Ia mengakui saat ini masih ada pro dan kontra di masyarakat mengenai penerapan jalur searah itu karena dianggap membikin macet, membuat akses menjadi sulit karena harus memutar, hingga mematikan usaha yang ada di sepanjang jalan itu.

Namun, Kusnandir mengatakan kalau jalur-jalur searah tersebut sudah terintegrasi semuanya diyakini akan berjalan lancar dan mampu mengurai kemacetan, apalagi jika masyarakat nantinya sudah terbiasa dengan penerapan kebijakan baru itu.

“Kami akan terus melakukan evaluasi penerapan sistem satu arah yang diberlakukan di tiga zona itu. Nanti, kalau zona empat sudah diberlakukan maka sistems atu arah akan terintegrasi sehingga perjalanan akan semakin nyaman,” katanya.

Menurut dia, penerapan sistem jalur searah itu merupakan program jangka panjang untuk mengatur lalu lintas di Semarang yang sudah mulai padat dengan pertumbuhan kendaraan pribadi yang mencapai 10-15 persen/tahun sehingga perlu diantisipasi.

“Kalau tidak diantisipasi mulai sekarang, lima tahun mendatang akan macet parah. Kami akan lakukan pembongkaran median dan pulau jalan untuk memperlancar arus lalu lintas, kemudian parkir juga akan kami tata secara rapi,” pungkasnya.

Sementara itu, anggota Komisi A DPRD Kota Semarang Johan Rifai mengakui arus kendaraan memang perlu diatur agar tidak terjadi kemacetan dan kesemrawutan lalu lintas, termasuk parkirnya agar penerapan jalur searah bisa lebih optimal.

“Masyarakat selama ini mengeluhkan soal parkir dan macet. Karena itu, perlu tindakan tegas untuk parkir yang semrawut. (Parkir, red.) Ditata, selain agar tidak macet, juga bisa menambah pendapatan asli daerah (PAD), kata politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.  (El)

Advertisements