Home Nasional 13 Saksi  Sebut Siyono Petinggi Neo Jamaah Islamiyah dan Terlibat Jaringan Terorisme

13 Saksi  Sebut Siyono Petinggi Neo Jamaah Islamiyah dan Terlibat Jaringan Terorisme

834
Siyono

Jakarta, 12/4/16(Beritajateng.net)– Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal Tito Karnavian menyebut ada belasan saksi yang menyatakan keterlibatan Siyono dalam jaringan teroris

Siyono adalah salah satu petinggi Neo Jamaah Islamiyah. Saksi-saksi menyebut terduga teroris itu mengetahui di mana persembunyian senjata jaringan tersebut.

“Dia terlibat jaringan yang sudah ada. Ada sekitar 13 orang menyebut nama dia, termasuk pemegang senjata,” kata Tito di Markas Besar Polri, Jakarta, Selasa (12/4).

Siyono tewas ketika Densus 88 membawanya untuk menunjukkan tempat senjata itu. Dalam perjalanan menggunakan mobil, Siyono meminta borgolnya dibuka karena hendak menunjukkan tempat itu.Namun ketika permintaannya dipenuhi, Siyono justru berontak dan berkelahi dengan petugas hingga meninggal dunia.

Tito mengatakan, berdasarkan pengalamannya menangani antiterorisme sejak 1999, kadang-kadang terduga teroris memang tidak diborgol agar lebih terbuka dan tidak merasa terintimidasi. Meski demikian, Tito tetap menyebut terjadi kesalahan prosedur dalam kasus ini.

“Tidak di borgolnya Siyono merupakan salah satu trik kami untuk menarik hati tersangka agar mau lebih terbuka. disini ada kesalahan prosedur dimana tidak hanya cukup satu orang saja dibelakang plus tersangka tidak diborgol, jadi ini bukan kriminal,” ujar tito.

Autopsi yang dilakukan Komnas HAM dan PP Muhammadiyah mengungkap, tewasnya Siyono akibat tindak kekerasan menggunakan benda tumpul di bagian dada. Fakta hasil autopsi memperlihatkan tulang dada Siyono patah dan ada lima luka patah tulang di bagian iga sebelah kiri, dan satu di sebelah kanan yang keluar.

Menanggapi hasil autopsi yang dilakukan Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Tito mengatakan hal tersebut tidak bisa menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi dalam peristiwa yang menewaskan Siyono.

“Autopsi hanya menjelaskan bahwa terjadi kekerasan, sebab kematian karena apa,tapi tidak menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi” pungkas Tito.(Bj50)

Advertisements