Home News Update 120 Anak Putus Sekolah Akan Disekolahkan

120 Anak Putus Sekolah Akan Disekolahkan

Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

Jepara, 30/6 (BeritaJateng.net) – 120 pekerja anak dan putus sekolah kembali disekolahkan di tahun ajaran ini. Anak-anak tersebut disaring dalam program Pengurangan Pekerja Anak guna mendukung Program Keluarga Harapan (PPA-PKH).

Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Jepara melalui pengawas tenaga kerja, Muktiati menjelaskan, 120 anak tersebut didapatkan dari hasil penjaringan yang dilakukan instansinya, bekerja sama dengan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pemerhati anak.

Untuk memperkuat data pekerja anak yang dimiliki Dinsosnakertrans, pihaknya melakukan pengecekan di lapangan ke perangkat desa, tempat pekerja anak tersebut tinggal.

Selain sebagai pekerja, anak-anak yang mendapatkan bantuan tersebut hanya berasal dari keluarga miskin. Dibuktikan dengan kartu perlindungan sosial, seperti Kartu Keluarga Sejahtera (KKS).

Dari 120 anak yang berusia antara 9 hingga 17 tahun tersebut, 18 anak masuk Peket C, 40 anak berkeinginan masuk di SMK, 23 anak di MA, lima anak di MTs, 18 anak di SMP dan sisanya SMA.

Pilihan sekolah tersebut didasarkan pada keinginan anak sendiri, dan dengan mempertimbangkan jarak domisili dengan sekolah untuk mengurangi ongkos transportasi.

Muktiati menandaskan, pihaknya dalam hal ini hanya berposisi sebagai penjaring anak-anak yang kurang beruntung tersebut. Sedangkan untuk biaya sekolah, ditanggung oleh masing-masing instansi yang berwenang. Pihaknya sudah melakukan kordinasi dengan Disdikpora dan Kemenag Jepara, serta secera khusus ke Sekretariat Daerah.

“Kami hanya memberikan sepatu gratis serta bantuan uang saku Rp 250 ribu/bulan. Juga melakukan pendampingan sebelum anak itu kembali disekolahkan,” urainya.

Untuk memberikan penyadaran, anak-anak tersebut sebulan sebelum masa penerimaan peserta didik baru (PPDB) sudah didampingi oleh LSM pemerhati anak tersebut. LSM itu pula yang bertanggungjawab atas anak-anak saat proses sekolah.

“Satu pendamping bertanggungjawab terhadap 10 anak,” tegasnya.

120 anak tersebut merupakan jatah dari Kementerian Sosial. Tahun lalu Jepara diberi jatah 150 anak. Jepara menjadi bagian dari 11 kabupaten di Jawa Tengah yang dapat jatah tersebut karena memang memiliki pekerja anak yang cukup tinggi.

“Pekerja anak berbeda dengan anak yang membantu pekerjaan. Anak yang membantu pekerjaan hanya dibatasi dilakukan selama tiga jam/hari, tidak masuk skema upah, serta tetap terjamin hak belajar dan bermainnya,” kata Muktati. (Bj18)