Wuih.. Sudah 10 Tahun Warung Emy Gratiskan Soto Tiap Jumat

Pemilik warung soto 'Lawang Sewu' Emy Sulistiyati dan sang suami selalu menggratiskan sotonya setiap hari Jumat.

**Bermodal Ikhlas, Tak Takut Rugi Malah Untung

Semarang, 16/1 (BeritaJateng.net) – Sudah berlangsung sejak 10 tahun silam, pemilik warung soto ini rutin menggratiskan sebagian dagangannya setiap hari Jumat. Anehnya, bukannya merugi, tetapi pedagang ini justru mengaku untung. Seperti apa kisahnya?

Belum banyak orang tahu, sebuah warung kuliner yang terletak di Jalan Simpang, tepatnya di gang masuk samping DP Mall Jalan Pemuda Semarang. Terdapat sebuah warung sederhana yang menyimpan keunikan tersendiri. Bagaimana tidak, di tengah pertumbuhan bisnis yang membuat harga-harga kebutuhan melambung tinggi, warung ini justru menggratiskan Soto setiap hari Jumat.

Warung tersebut bernama Soto Lawang Sewu. Lokasinya agak tersembunyi karena masuk ke dalam sebuah gang. Tidak jauh, hanya kurang lebih 50 meter dari mulut gang Jalan Pemuda Semarang. Dinamakan ‘Soto Lawang Sewu’ karena letaknya juga tak jauh dari tempat wisata Lawang Sewu Tugu Muda. Tak jarang, wisatawan Lawang Sewu yang berjalan keliling hingga gang tersebut, mampir untuk mencicipi menu makanan soto.

Seorang ibu rumah tangga bernama Emy Sulistiyati, 45, merintis warung soto tersebut sejak 2007 silam. Kegigihannya dalam mengelola bisnis kuliner tak terlepas dari dorongan suaminya, Aiptu Suprapto, 45, yang saat ini bertugas sebagai Panit Provost, Propam Polrestabes Semarang.

Ia memang telah lama menerapkan budaya sedekah dalam setiap aktivitas bekerja maupun bisnis. Bahkan sejak pertama kali warung berdiri, Emy telah memulai budaya sedekah. Ia menyebutnya dengan istilah “Jumat Berkah”. “Sudah mulai sejak awal. Tapi dulu berupa nasi bungkus. Setiap Jumat kami sediakan secara gratis. Setiap pengunjung yang datang bisa ambil sendiri,” kata Emy.

Meski kecil, namun warung soto 'Lawang Sewu' milik Emy ini selalu memberi sedekah setiap Jumat kepada pelanggan setia dan dhuafa di sekitar warung dengan menggratiskan soto.
Meski kecil, namun warung soto ‘Lawang Sewu’ milik Emy ini selalu memberi sedekah setiap Jumat kepada pelanggan setia dan dhuafa di sekitar warung dengan menggratiskan soto.

Tidak hanya para pekerja di sekitar lokasi warung, anak-anak, maupun pengendara yang melintas penasaran. Mereka kemudian menyambangi warung tersebut dan mengambil nasi bungkus gratis. “Itu berlangsung kurang lebih satu tahun,” katanya.

Namun dalam perkembangannya, nasi bungkus tersebut dirasa kurang praktis. Sebab, dagangan warung tersebut adalah soto. “Saya sama suami berpikir biar lebih praktis ya yang ada saja (soto, Red). Jadi, selanjutnya kami berikan soto gratis setiap Jumat. Tak terasa, sampai sekarang sudah kurang lebih 10 tahun,” katanya.

Sampai sekarang, budaya ‘Jumat Berkah’ tetap konsisten dilakukan. Bahkan ia bersama suaminya telah yakin dan mantab akan menggratiskan soto di setiap hari Jumat, hingga kapanpun. Emy juga mengaku tidak ada alasan lain selain ikhlas berbagi. “Karena sudah diniati. Sebab, sebagian rizeki kita bukan hak kita, melainkan untuk orang lain. Selain itu juga sebagai wujud syukur atas nikmat yang selama ia diberikan oleh Tuhan. Sedekah kan tabungan sebenarnya,” kata ibu empat anak yang tinggal di Jalan Pusponjolo Timur 4 Semarang.

Setiap hari, warung soto miliknya cukup ramai dikunjungi pembeli. Sampai sekarang, ia dibantu oleh empat karyawan. Selain para karyawan perkantoran dan langganan, para pembeli banyak dari kalangan wisatawan yang mengunjungi obyek wisata Lawang Sewu. “Meski telah diberi tulisan ‘Soto Gratis Setiap Jumat’, ada juga pembeli yang tidak percaya. Mereka ngotot ingin membayar. Saya bilang ‘ini benar gratis’, saya tetap menolak dibayar. Karena memang gratis,” katanya.

Banyak pembeli bertanya, apakah tidak rugi? Tidak. Justru, lanjut Emy, selama menggratiskan sebagian dagangan, tidak pernah penghasilan atau omzet berkurang. Baik digratiskan pada hari Jumat, maupun di hari biasa (tidak gratis), penghasilan tetap sama. Bahkan secara umum malah untung.

“Pemasukan tidak berkurang, kadang malah lebih. Maka saya selalu bilang enggak usah terlalu kebanyakan itung-itungan. Kalau kita kebanyakan itung-itungan malah bingung,” katanya.

Emy yakin, Tuhan memiliki peran dalam soal penghitungan-penghitungan tersebut. Ia bersama suami mengaku lebih menekankan nilai kejujuran dan keikhlasan. Selebihnya diserahkan kepada Tuhan. “Kalau saya lagi repot, suami yang belanja pukul 04.30. Pukul 05.30 sampai rumah, terus berangkat tugas,” katanya.

Hingga saat ini, ia memiliki dua warung soto. Namun warung yang lain, yakni di Jalan Pusponjolo Timur, belum menerapkan sistem “Jumat Berkah”. Perkembangannya, warung soto tersebut dilengkapi menu lain yang lebih komplit. “Karena lokasinya dekat dengan perkantoran, akhirnya kami menambah menu. Nasi rames dan ayam bakar, karena menyesuaikan kebutuhan pelanggan,” katanya.

Menurutnya, hari Jumat selama ini dipercaya sebagai hari istimewa dalam Islam. Sehingga hari tersebut dimanfaatkan untuk berucap syukur dengan cara bersedekah semampunya.
“Dengan hati yang ikhlas, mudah-mudahan doa-doa kita lebih mustajab,” katanya.

Salah pekerja, Imam, menambahkan, warung tersebut buka mulai pukul 07.00 hingga 16.00. “Banyak pembeli yang datang dari luar kota seperti Solo, Magelang dan lain-lain. Mereka merupakan wisatawan yang berkunjung di Lawang Sewu. Gang tersebut memang sering dilintasi pejalan kaki. Jadi, cukup ramai. Apalagi kalau pas liburan,” katanya.

Lebih lanjut, kata dia, ada juga pembeli yang semula datang sendirian, di lain kesempatan mereka datang bersama rombongan secara ramai-ramai. “Selama persediaan masih ada, semua gratis. Tapi ada juga orang yang datang tapi sotonya sudah habis,” katanya. (EL)

Tulis Komentar Pertama