Wow.. Daun-daun Kering ini Disulap Jadi Produk Kerajinan Cantik yang Bernilai Jual

Daun-daun Kering Disulap Jadi Produk Kerajinan Cantik yang Bernilai Jual

Semarang, 26/9 (BeritaJateng.net) – Sekelompok pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna Kamudhanaga, Semarang, berkreasi membuat berbagai produk kerajinan bernilai jual berbahan dasar daun-daun kering.

“Ya, terinspirasi dari banyaknya dedaunan yang berjatuhan dan berserakan. Kenapa tidak dimanfaatkan?,” kata anggota Karang Taruna Hamudhanaga, Hasanah Ratri Handayani di Semarang, Senin.

Hal tersebut diungkapkannya di sela beraudiensi dengan Dinas Sosial Pemuda dan Olahraga Kota Semarang mengenai persiapan Expo Kepemudaan Kota Semarang 2016 yang bakal digelar 1-2 Oktober mendatang.

Bersama dengan kawan-kawannya di karang taruna, jebolan Jurusan Biologi Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu memutar otak untuk memanfaatkan sampah daun itu hingga akhirnya menemukan solusinya.

“Daun-daun yang sudah kami kumpulkan, kemudian direndam dengan lumpur. Setelah itu, daun direbus dengan bahan kimia, disikat hingga tersisa tulang daunnya. Terakhir, tahap pewarnaan,” katanya.

Hasilnya, berbagai produk kerajinan, mulai gantungan kunci berbentuk daun beraneka warna, bunga hias yang sudah diboks, baik yang perbiji maupun yang dirangkai, pembatas buku, hingga kaligrafi.

“Tidak semua daun memang, sebab harus dicermati teksturnya. Biasanya, kami pakai daun pohon boddhi, sirsak, dan mahoni. Jadinya, seperti ini,” katanya, seraya menunjukkan produk kaligrafi dari daun.

Dengan label “Lonleaf” yang membuka bengkel produksi di Jalan Karangrejo V RT 03/RW 03, Banyumanik, Semarang, Ratri dipercaya sebagai koordinatornya karena mempelopori temuan produk kerajinan itu.

“Hasilnya lumayan. Yang paling banyak dicari adalah gantungan kunci. Dalam sebulan, permintaan sampai hampir 100 buah. Selebihnya, produk-produk lainnya. Ada sekitar 20-an anggota karang taruna,” katanya.

Senada dengan itu, Hanifah Widyaasari yang juga anggota karang taruna menambahkan produk kerajinan itu dikerjakan di sela waktu luang, sebab ada anggota yang masih bersekolah, berkuliah, dan bekerja.

“Kalau hari-hari biasa, ibu-ibu sekitar juga membantu. Lumayan, mengisi waktu luang dengan sesuatu yang menghasilkan,” kata mahasiswi Fakultas Psikologi Unnes yang dipercaya sebagai “marketing” itu.

Untuk pemasaran, Widya mengungkapkan, saat ini sudah dikelola secara “online” dengan memanfaatkan jejaring media sosial, di samping pemasaran langsung dan “gethok tular” atau dari mulut ke mulut.

“Sekitar setahun lalu dimulai. Jadi, para anggota karang taruna mengusulkan produk yang bisa dikreasi, kemudian produk dari daun ini yang dipilih karena dinilai lebih prospek dan bahannya sederhana,” pungkasnya. (Bj05)

SHARE

Tulis Komentar Pertama