Home Kesehatan Wow.. Bakteri Ternyata Bisa Hidup di Luar Angkasa

Wow.. Bakteri Ternyata Bisa Hidup di Luar Angkasa

434
Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta, (BeritaJateng.net) – Bakteri patogen, termasuk yang berkaitan dengan radang atau iritasi kulit, ditemukan hidup di Stasiun Luar Angkasa AS, demikian satu studi oleh badan antariksa AS, NASA.

“Di mana ada manusia, di sana ada bakteri, di ruang angkasa sekalipun,” kata NASA sebagaimana dikutip Xinhua.

“Temuan dalam studi ini membantu NASA menetapkan landasan bagi pemantauan kebersihan stasiun antariksa ini yang pada gilirannya akan membantu menangani kesehatan astronot pada masa depan.”

Gravitasi yang sangat rendah diketahui mempengaruhi bakteri, dan pendapat saat ini adalah gravitasi sangat rendah tidak mendukung kelangsungan hidup bakteri secara umum, tapi sebagian spesies yang bisa bertahan mungkin menjadi lebih ganas.

Berbagai penelitian sebelumnya mengenai stasiun antariksa menggunakan teknik mikrobiologi tradisional yang membudidayakan bakteri dan jamur di laboratorium, untuk menilai susunan komunitas mikroba.

Sekarang, Kasthuri Venkateswaran dari Laboratorium Propulsi Jet NASA (JPL) dan rekannya menggunakan teknologi pengurutan DNA untuk dengan cepat dan tepat mengidentifikasi mikroorganisme yang ada di stasiun antariksa.

Tim ini membandingkan sampel dari satu filter udara dan satu kantung vakum dari stasiun antariksa dengan debu dari dua ruang kebersihan JPL –yang sepenuhnya bersih dan terkendali.

Hasil mereka memperlihatkan bakteri yang berkaitan dengan kulit manusia,Actinobacteria, yang adalah bagian yang lebih besar dari komunitas mikroba di stasiun antariksa dibandingkan di ruang bersih, yang para peneliti sebut dapat disebabkan oleh ketentuan kebersihan yang lebih ketat dan mungkin diterapkan di Bumi.

Mereka juga menemukan Corynebacteriumdan Staphylococcus –dua jenis lain patogen yang kebanyakan tidak berbahaya di Bumi tapi dapat mengakibatkan infeksi yang menimbulkan radang atau iritasi kulit– ada di stasiun antariksa itu.

Bahaya

Namun, para peneliti itu tidak menangani bahaya dari patogen itu di lingkungan tertutup atau risiko infeksi kulit pada astronot.

“Mempelajari komunitas mikroba di stasiun antariksa membantu kami dalam lebih memahami keberadaan bakteri di sana, sehingga kami dapat mengidentifikasi spesies yang berpotensi merusak peralatan atau menimbulkan bahaya bagi kesehatan astronot,” kata Venkaterswaran.

“Itu juga membantu kami mengidentifikasi daerah yang memerlukan pembersihan lebih teliti.”

Menurut badan antariksa AS ini, penelitian semacam itu juga akan penting bagi misi antariksa jangka panjang, seperti perjalanan NASA ke Planet Mars. (Bj/bis)