Home Lintas Jateng Waspadai Tinggi Gelombang Perairan Laut Selatan Jateng

Waspadai Tinggi Gelombang Perairan Laut Selatan Jateng

560

BMKG

Cilacap, 26/1 (BeritaJateng.net) – Stasiun Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Cilacap memprakirakan tinggi gelombang perairan selatan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta berpeluang meningkat dalam beberapa hari ke depan.

“Saat ini di daratan Australia bagian barat terdapat ‘low pressure’ (daerah pusat tekanan rendah) yang berdampak pada peningkatan kecepatan angin di perairan selatan Jateng dan DIY terutama angin barat,” kata Kepala Kelompok Teknisi Stasiun Meteorologi BMKG Cilacap Teguh Wardoyo di Cilacap, Jateng, Senin.

Menurut dia, peningkatan kecepatan angin tersebut berpengaruh pada tinggi gelombang di perairan selatan Jateng dan DIY yang berpeluang mencapai 2-2,5 meter pada hari Selasa (27/1) atau meningkat dari tinggi gelombang pada hari Senin (26/1) yang berkisar 2-2,25 meter.

Kendati demikian, dia mengatakan bahwa tinggi gelombang 2-2,5 meter masih relatif kondusif bagi pelayaran nelayan berperahu kecil.

Akan tetapi jika daerah pusat tekanan rendah di daratan Australia bagian barat itu bergerak ke wilayah perairan, kata dia, tinggi gelombang di perairan selatan Jateng dan DIY berpeluang mengalami peningkatan.

“Posisi ‘low pressure’ di daratan Australia bagian barat itu masih stasioner dan tekanan udaranya di pusatnya masih pada angka 1.010 milibar. Kalau ‘low pressure’ itu bergerak meninggalkan daratan menuju perairan dan tekanan udaranya menguat, tinggi gelombang di perairan selatan Jateng dan DIY akan meningkat,” jelasnya.

Terkait kondisi cuaca di wilayah Jateng selatan, Teguh mengatakan bahwa hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih berpeluang terjadi dalam beberapa hari ke depan.

Bahkan sejak dua hari terakhir, kata dia, hujan yang terjadi selalu disertai dengan petir.

Selain itu, lanjut dia, angin puting beliung juga masih berpeluang terjadi di wilayah Jateng selatan.

“Kami imbau masyarakat untuk tetap waspada terutama yang bermukim di wilayah rawan bencana karena curah hujan masih tinggi dan kadang disertai petir serta masih berpeluang terjadi angin puting beliung. Curah hujan di Kota Cilacap pada hari Minggu (25/1) tercatat mencapai 44 milimeter,” katanya.

Sementara itu, ribuan nelayan yang tersebar di berbagai wilayah Cilacap enggan melaut meskipun tinggi gelombang relatif kondusif bagi pelayaran.

“Saat ini gelombang memang tidak terlalu tinggi namun jarang terdapat ikan sehingga kami tidak melaut daripada merugi,” kata salah seorang nelayan, Sarto, di Pantai Teluk Penyu, Cilacap.

Menurut dia, kadang kala nelayan yang nekat melaut tidak mendapat hasil tangkapan baik ikan maupun udang.

Padahal setiap kali melaut, kata dia, nelayan harus mengeluarkan uang sedikitnya Rp100 ribu untuk membeli solar dan perbekalan.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua Bidang Organisasi Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Cilacap Indon Tjahjono mengatakan bahwa saat ini sedang berlangsung musim angin barat sehingga banyak nelayan yang tidak melaut.

“Kalaupun ada yang melaut, mereka tidak berani terlalu jauh, hanya di sekitar perairan Nusakambangan,” katanya.

Ketua Koperasi Unit Desa Mino Saroyo, Cilacap, Untung Jayanto mengatakan bahwa di perairan selatan Jateng dan DIY jarang terdapat ikan saat berlangsung musim angin barat.

“Pada bulan Januari hingga Februari jarang terdapat ikan sehingga nelayan banyak yang tidak melaut. Apalagi sedang berlangsung musim angin barat,” katanya.

Berdasarkan data HNSI Cilacap, jumlah nelayan di kabupaten itu mencapai 33.000 orang. (Ant/BJ)