Home Headline Waspada Antraks, Ini Cara Pilih Hewan Kurban yang Benar

Waspada Antraks, Ini Cara Pilih Hewan Kurban yang Benar

207
Dispertan Kota Semarang melakukan monitoring dan pengawasan hewan kurban sebelum dijual.

Semarang, 7/8 (BeritaJateng.net) – Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertan)Kota Semarang mewaspadai ancaman hewan kurban yang terjangkit antraks menjelang Idul Adha 1440 Hijriyah.

Kepala Dispertan Kota Semarang, Wahyu Permata Rusdiana mengatakan, Kota Semarang menjadi daerah yang disebut-sebut sebagai daerah yang rawan antraks.

Hal ini mengingat banyak hewan dari luar kota yang beredar di Kota Semarang menjelang Idul Adha ini. Mayoritas hewan kurban yang dijual di Kota Semarang berasal dari Pati, Kudus, dan Grobogan.

Dari tahun ke tahun, pedagang hewan kurban memang berlangganan di beberapa kota tersebut. Meski demikian, Dispertan Kota Semarang juga mewaspadai beberapa hewan yang masuk dari kota-kota lain.

“Kami waspadai betul hewan-hewan yang masuk ke Kota Semarang. Beberapa kota yang kami waspadai terkena penyakit antraks diantaranya hewan dari Boyolali, Sragen, Kulonprogo, dan Gunungkidul. Hewan dari kota tersebut pernah terjangkit antraks,” papar Dina, sapaan akrab Kepala Dispertan Kota Semarang, disela-sela pengecekan hewan ke sejumlah outlet penjualan hewan kurban.

Dinapun mengimbau kepada para konsumen agar membeli hewan kurban yang memiliki surat keterangan kesehatan hewan.

Diakuinya, hal ini memang kerap dilalaikan oleh sejumlah konsumen. Padahal, surat keterangan hewan sangat penting untuk memastikan hewan yang bakal dibeli benar-benar sehat.

“Yang perlu diwaspadai konsumen saat membeli hewan kurban yaitu tanyakan kepada penjualnya hewan tersebut ada surat keterangan sehat dari dokter hewan ataupun dinas terkait atau tidak,” imbaunya.

Dia menegaskan, hewan tidak boleh diperjualbelikan di Kota Semarang jika tidak memiliki surat keterangan sehat hewan.

Pengecekan hewan kurban ke sejumlah pedagang terus dilakukan Dispertan Kota Semarang.

Sejak pengecekan dua pekan lalu, pihaknya telah menemukan beberapa pedagang yang tidak memiliki surat keterangan sehat hewan. Dispertan pun langsung tidak memperbolehkan pedagang menjual hewannya.

“Kami tidak perbolehkan untuk dijual. Kami periksa dulu. Jika memang sehat, kami akan beri surat keterangan, baru boleh untuk dijual,” katanya.

Selain penyakit antraks, Dina juga mewaspadai hewan yang memiliki penyakit kulit dan hewan yang stress karena perjalanan jauh.

Hewan tersebut juga diperiksa terlebih dahulu, diberi obat, dan karantina selama tiga hingga tujuh hari. Setelah itu, hewan tersebut baru diperbolehkan untuk dijual.

“Kalau hewan sudah layak dijualbelikan, kami beri penanda hewan tersebut sehat. Jadi, masyarakat bisa memilih hewan yang sudah ada tanda sehat dsri Dispertan,” imbuhnya. Dikatakannya, penjualan hewan kurban di kota Semarang memang cukup tinggi.

Pada tahun 2018 lalu, pihaknya melakukan pemantauan dan pemeriksaan di 320 tempat penjualan. Terdapat 2.574 sapi, 12.130 kambing, 474 domba, dan 15 kerbau.

Adapun data saat ini, Dina belum dapat menyebutkan lantaran masih dalam proses pemantauan dan pemeriksaan.

Seorang pedagang hewan kurban di Jolotunda kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Nunung Wijayanti memastikan, hewan yang dijualnya sehat.

Pihaknya telah mengantongi surat keterangan sehat hewan dari Dinas Peternakan Kabupaten Pati, sebab hewan yang dijual berasal dari kadang Pati.

Adapun upaya untuk tetap menjaga kondisi kesehatan hewannya, dia memberikan makan secara teratur. Tidak hanya diberi rumput, namun secara berkala hewan dagangannya dibei makan tebon dan konsentrat.

Jika menemui hewan yang sakit, pihaknya langsung mengarantina hewan tersebut. “Kalau ada yang sakit kami karantina. Kami sudah siapkan kandang khusus bagi hewan yang sakit,” sebutnya.

Hewan yang dia bawa dari kandang pati sejumlah 150 ekor kambing dan 19 ekor sapi. Pihaknya efektif membuka lapak di tempat tersebut selama tiga pekan.

Sudah lima tahun Nunung memilih menggelar lapak di Kota Semarang dengan pertimbangan mangsa pasar di Kota Semarang lebih besar dari pada daerah asalnya, Kabupaten Pati. “Banyak konsumennya disini apalagi dekat MAJT, banyak yang berkurban,” ucapnya.  (El)