Home Hukum dan Kriminal Warga Penuhi Ruang Sidang Kasus Pembunuhan di Kudus

Warga Penuhi Ruang Sidang Kasus Pembunuhan di Kudus

image

Kudus, 27/5 (Beritajateng.net)-Sidang kasus pembunuhan di PN Kudus, Rabu (27/5) dengan terdakwa Hamim (42) warga Desa Undaan Lor Gang 19, Kecamatan Undaan Kudus, mendapat perhatian seratusan warga desa setempat. Untuk mengantisipasi segala kemungkinan, pengadilan meminta bantuan Polres Kudus untuk mengamankan jalannya sidang. 

Empat saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Hapsoro Eka Pujiyanti dari Kejari Kudus, satu persatu memberikan keterangan dihadapan majelis hakim yang dipimpin Rudy Ananta. Sedangkan terdakwa yang sejak awal menolak didampingi penasehat hukum, dalam persidangan ini didampingi tim kuasa hukum dari Bakobakum karena pasal yang didakwakan ancaman hukumannya maksimal 15 tahun. 

Menurut keterangan saksi Najib, sebelum kejadian terdakwa memang sudah pernah melontarkan ancaman kepada korban meninggal Zamawi (52) yang tinggal didepan rumahnya. Bukan hanya itu, beberapa tetangganya juga sempat diancam akan dibunuh. ”Sebelum kejadian saya sempat mendatangi rumah terdakwa dengan tujuan mendamaikan dengan para tetangganya yang pernah diancam. Tetapi ketika terdakwa melihat keberadaan orang-orang yang pernah diancamnya, dia malah mengambil senjata tajam dan mengejarnya,” tutur saksi menjawab pertanyaan hakim. 

Kesaksian senada diungkapkan oleh H Gufron. Menurutnya, ketika dirinya datang memenuhi panggilan Sekdes, terdakwa justru mengejarnya sambil mengacungkan mata tombak. Ketika dia terjatuh, terdakwa menghujamkan senjata yang dibawanya dan mengenai pantatnya. Beruntung, pada waktu bersamaan terdakwa melihat ada warga lainnya bernama Slamet yang juga pernah diancamnya. Melihat keberadaan Slamet, terdakwa beralih mengejarnya dan meninggalkan H Gufron dalam keadaan terluka. 

Masih menurut keterangan saksi, kejadian tersebut sebenarnya diketahui oleh beberapa warga lainnya yang tinggal tidak berjauhan dengan lokasi kejadian. Hanya saja, karena terdakwa memegang senjata tajam warga takut mendekatinya. Saat warga dalam kondisi ketakutan, terdakwa masuk ke rumah korban Zamawi dengan masih memegang mata tombak berlumuran darah.

Mengetahui terdakwa mendatangi rumahnya, Zamawi berusaha lari untuk menyelamatkan diri. ”Naas, ketika Pak Zamawi berada disamping rumahnya hendak menyelamatkan, langkahnya ’keserimpet’ sarung yang dikenakan hingga terjatuh,” katanya. 

Mendapati orang yang sejak lama hendak ’dihabisi’ dalam kondisi terjatuh, terdakwa langsung menghampirinya lalu menindih tubuh korban dengan kedua kakinya.  Dalam keadaan penuh emosi, terdakwa menghujamkan sajam yang dibawanya ke tubuh korban sebanyak lima tusukan. Puas melampiaskan emosinya, terdakwa langsung pergi masuk ke dalam rumahnya.

Sebagian warga menolong korban yang penuh luka dan membawanya ke RS Mardi Rahayu. Sedangkan puluhan warga lainnya mendatangi rumah terdakwa hendak menangkapnya.Setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit, akhirnya korban Zamawi meninggal dunia.

Menurut keterangan medis, salah satu tusukan di punggung korban tembus mengenai paru-parunya, sedangkan korban luka H Gufron hanya menjalani rawat jalan. 

Dalam persidangan tersebut, terdakwa Hamim didakwa melanggar pasal 338 KUHP junto pasal 351 ayat (3) tentang penganiayaan berat yang mengakibatkan orang meninggal dunia dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun. Selama menjalani persidangan, terdakwa didampingi penasehat hukum dari Bakobakum Kudus. (BJ12)