Home Kesehatan Waduh !!! 47 Ribu Warga Jateng Terkena HIV/AIDS

Waduh !!! 47 Ribu Warga Jateng Terkena HIV/AIDS

ilustrasi

Semarang, 18/1 (BeritaJateng.net) – Dinas Kesehatan Jawa Tengah memperkirakan jumlah penderita HIV/AIDS di wilayah tersebut mencapai 47.000 orang. Namun, kasus yang sudah ditemukan itu belum ada separuhnya.

“Estimasi kami, total kasus HIV/AIDS di Jateng mencapai 47 ribu kasus. Ya, mudah-mudahan perkiraan kami keliru, tidak sebanyak itu,” kata Kepala Dinkes Jateng Yulianto Prabowo di Semarang, seperti yang dikutip ANTARA.

Hal tersebut diungkapkan usai menghadiri “Youth Campaign HIV/AIDS” diprakarsai Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Jateng yang berlangsung di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 5 Semarang.

Menurut dia, sejauh ini temuan kasus HIV/AIDS di Jateng baru sekitar 12.500 kasus atau hanya seperempatnya dari estimasi 47 ribu kasus dengan daerah terbanyak di Pantai Utara (Pantura).

“Dari sekitar 12.500 kasus HIV/AIDS yang sudah ditemukan, sebanyak 1.800 penderita di antaranya sudah meninggal dunia. Ini kan menunjukkan masih banyak kasus HIV/AIDS yang ditemukan,” katanya.

Maka dari itu, Yulianto mendorong masyarakat untuk bersedia memeriksakan diri ke klinik VCT (Voluntary Counseling Test) yang sudah disediakan di rumah-rumah sakit, baik milik pemerintah maupun swasta.

Berkaitan dengan daerah dengan temuan kasus HIV/AIDS terbanyak di Jateng, ia mengakui selama ini kebanyakan di kawasan Pantura Jateng, seperti Kabupaten Jepara, Batang, termasuk Kota Semarang.

“Begini, tingginya temuan kasus HIV/AIDS ini sebenarnya baik atau jelek? Jangan kemudian dihakimi (jelek, red.), sebab semakin banyak kasus yang ditemukan sebenarnya justru semakin baik,” katanya.

Daerah dengan temuan kasus HIV/AIDS tertinggi, kata dia, juga bukan serta merta mengartikan jumlah penderitanya terbanyak, mengingat dalam kaitan HIV/AIDS adalah kasus yang sudah ditemukan.

“Kami terus berupaya untuk sesegera mungkin menemukan penderita HIV/AIDS yang belum diketahui agar dapat dilakukan pengobatan secepat mungkin, serta mengantisipasi penularan lebih luas,” katanya.

Mengenai pencegahan penularan HIV/AIDS, ia mengatakan harus dilihat secara komprehensif, misalnya penutupan lokalisasi yang sebenarnya merupakan kebijakan yang dilematis dilihat dari berbagai aspek.

“Dari aspek pencegahan, keberadaan (lokalisasi, red.) membuat pencegahan semakin mudah karena sasarannya jelas. Namun, persoalannya kan bukan hanya aspek kesehatan. Jadi, ada positif dan negatifnya,” katanya. (BJ/ant)