Home News Update Unnes Beri Perhatian Pada Penelitian dan Pengabdian

Unnes Beri Perhatian Pada Penelitian dan Pengabdian

Semarang, 27/11 (BeritaJateng.net) – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Negeri Semarang (Unnes) menggelar 1st Unnes International Conference on Research Innovation and Commercialization (UICRIC) for Better Life 27 November 2015 hingga 29 November 2015 di Hotel Patra Jasa, Jumat (27/11).

Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mewujudkan visi Unnes menjadi Universitas Konservasi Bertaraf Internasional serta sebagai upaya meningkatkan kualitas karya-karya penelitian. Pesertanya sendiri ada dari Unnes dan beberapa Perguruan Tinggi di Indonesia, Malaysia, Jerman, dan Thailand.

Diharapkan dengan adanya UICRIC ini akan ada tindak lanjut sehingga mampu memotivasi para peneliti untuk menghasilkan produk-produk inovatif yang bermanfaat dan dapat dikomersialisasikan sehingga menambah ‘income generate’ bagi masyarakat.

Pembicara lain yang hadir diantaranya Prof. Chow Yang Lee dari National Taiwan University dan University Sains Malaysia, Joop Van De Flier dari Nehem International the Netherland, Asst. Prof. Rotchanatch Darnsawasdi dari Prince of Songkla University Thailand, Prof. Rahim MD. Sail dari University Putra Malaysia, dan Prof. Dr. Fathur Rokhman M.Hum yang merupakan Rektor Unnes.

Ada pula peneliti Unnes yang bergabung dalam seminar ini, baik sebagai pemakalah maupun sebagai peserta. Mereka mengambil ruang lingkup kluster-kluster penelitian berupa inovasi pendidikan, science dan teknologi, serta peningkatan sumber daya dan kualitas hidup.

Dr. Muhammad Dimyati, Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan menekankan bahwa Unnes harus bekerja keras untuk mencapai 500 Universitas peringkat kelas dunia.

“Fungsi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi ini menjadi fokus. Hampir semua perhatian tertuju pada bagian yang pertama dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Sedangkan yang kedua dan ketiga belum mendapat perhatian yang signifikan. Research punya tujuan kesejahteraan melalui peningkatan daya saing. Sudah saatnya kita memberikan perhatian pada Tri Dharma Perguruan Tinggi kedua dan ketiga, yaitu berupa penelitian dan pengabdian,” jelas Dimyati.

Apabila melihat potret penelitian di Indonesia. Muhammad Dimyati menjelaskan dari 114 negara pada tahun 2015 posisi Indonesia ada di nomor 37, dan ini memerlukan upaya yang luar biasa.

“Maka perlu kiranya bekerja keras dan cerdas untuk bisa meningkatkan daya saing bangsa. Salah satunya melalui inovasi, ‘research’,” terang Dimyati.

Prosentase dosen yang lulusan S3 masih sangat kecil daripada lulusan S1 dan S2. Untuk menambah jumlah penelitian yang ketinggalan, dari tiga Tri Dharma Perguruan Tinggi yang seharusnya dilakukan bersama, belum selalu mengikuti persyaratan bahwa dosen bisa mengajar dengan baik.

“Di Unnes ada kewajiban dosen mengikuti pengajaran yang baik. Itupun belum cukup, seorang peneliti maupun dosen, memiliki kualifikasi pengajaran juga penelitian. Untuk mendorong kemampuan pengabdian di dalam masyarakat,” tuturnya.

Pemerintah terus mendorong, penulisan fakta yang ada Indonesia sudah cukup berkembang. Guna kebutuhan jurnal, ada 70 jurnal yang terakreditasi dan bisa dimanfaatkan hasil-hasilnya kepada masyarakat.

Dimyati menyebutkan klasifikasi perguruan tinggi dalam mendorong anggaran penelitian lebih besar dan yang paling besar sekitar 40 Miliyar.

“Di Unnes range kedua bisa mencapai 15 Miliyar dan tergantung objeknya,” terangnya.

Sementara itu, Prof. Dr. Fathur Rokhman M.Hum menyatakan berkomitmen mengambil bagian dalam kaitannya ‘research’ dan inovasi.

“‘Research’ yang lebih strategis, memiliki dampak publikasi. Hal ini menghasilkan dampak diakui dan dibaca sebagai panjatan bagi penelitian berikutnya. Inovasi dalam melakukan penelitian kuncinya ada pada dosen dan SDM,” jelas Rektor Unnes ini, Jumat (27/11).

Fathur Rokhman menambahkan standart dosen dalam penelitian, satu dosen satu publikasi pada tingkat nasional bisa terakreditasi, dan pada tingkat internasional bisa terindeks serta mendapat hadiah senilai Rp 20 juta.

“Dosen yang tidak melakukan publikasi maka tunjangannya belum bisa turun. Dosen minimal harus S2, jika masih S1 maka diarahkan mengajar di SMA, sedangkan doaen lulusan S2 didorong supaya bisa S3, inilah yang dinamakan dosen ‘kaffah’ (sempurna),” pungkas Fathur Rokhman. (BJT01)