Tutup Usia di Umur 206 Tahun, Hj Rantima Manusia Tertua di Dunia Ada di Indonesia

Madura, 21/2 (BeritaJateng.net) – Hj. Rantima, warga Desa Durjan Barat Pokejing Kecamatan Kokoh Kabupaten Bangkalan Madura, Jawa Timur menjadi sosok yang tengah ramai diperbincangkan masyarakat Madura. Pasalnya  Hj. Rantima memiliki usia tak wajar yakni 206 tahun dan hidup dalam lima generasi dengan lebih dari 100 keturunan.

Ia adalah sosok perempuan yang ramah dan sederhana, terlihat dari pola hidup dan sikapnya memilih tetap tinggal di gubug bambu berukuran 3×4 meter dengan papan tidur dari bambu meskipun keluarganya memiliki rumah megah dan besar di Madura.

Hj. Rantima tutup usia pada Kamis (18/2) lalu pukul 22.00 WIB di usia 206 tahun. Ada kejadian aneh sebelum ajal menjemput perempuan renta ini. Hj. Rantima sempat dinyatakan meninggal pada Senin pagi (15/2) sekira pukul 06.00 WIB. Sontak pihak keluarga langsung menghubungi keluarga yang berada di luar kota dan memberitahu berita duka meninggalnya Hj. Rantima.

Namun dalam hitungan jam Hj. Rantima kembali bernafas dan menyebut nama salah satu buyutnya yang berada di kota Semarang, Bunda Halimah pakar Herbal Indonesia.

Detik-detik terakhir menjelang ajal, Hj Rantima ditemani buyutnya Bunda Halimah (Pakar Herbal Indonesia).
Detik-detik terakhir menjelang ajal, Hj Rantima ditemani buyutnya Bunda Halimah (Pakar Herbal Indonesia).

“Mendengar kabar duka, Senin malam saya langsung beranjak ke kota kelahiran saya di Bangkalan Madura. Alangkah kagetnya, buyut saya ternyata kembali hidup dan menunggu kehadiran saya pulang ke kampung halaman,” ujar Bunda Halimah (Pakar Herbal Indonesia) buyut Hj. Rantima.

Bunda Halimah mengingat buyutnya sebagai sosok yang gigih semasa hidupnya. “Pernah buyut Rantima bercerita tentang pengalaman hidup semasa penjajahan Belanda. Buyut pernah lari dari kejaran orang-orang Belanda dan bersembunyi dengan membuat lubang didalam tanah, mengubur diri dan menutupi lubang dengan ranting pohon jati. Tak hanya itu, Buyut Rantima juga pernah bersembunyi di dalam hutan bambu untuk menghindari kejaran orang-orang Belanda. Ia sosok yang gigih,” imbuh Bunda Halimah.

Menurut Bunda Halimah, Buyut Rantima juga merupakan orang yang disegani namun tetap berparas ramah, karena Buyut Rantima masih keturunan Raja Prabu Wico Cekar (diduga Raja tertua di Madura) dan Syekh Maulana Nasoqah.

Tak hanya itu, di masa penjajahan Belanda Hj. Rantima menghabiskan waktu dengan mengasuh Ratu Teller (Belanda). “Buyut Rantima sering mengayuh ayunan yang terbuat dari kayu ribet dan mengipasi ratu dengan kipas dari daun jati. Baju yang dikenakan buyut juga masih alami dari daun Johar,” cerita Bunda Halimah.

Semakin bertambahnya usia, buyut Rantima mulai melakukan petualangan dan pertapa di makam yang terletak diatas gunung bernama makam ‘bujuh bukek’. “Buyut sukanya berzikir, bertapa dipemakaman Raja Prabu Wico Cekar diatas gunung dan menjalankan puasa daud,” jelasnya.

Anehnya, dia tidak pernah sekali pun mengalami sakit parah yang butuh penanganan medis. “Buyut orang yang sakti, tidak pernah sakit. Penyakitnya ya penyakit tua,” imbuhnya.

Hj. Rantima menganyam tikar dari daun kelapa (foto diambil saat salah satu stasiun TV Nasional meliput aktivitas perempuan berusia lebih dari 200 tahun ini).
Hj. Rantima menganyam tikar dari daun kelapa (foto diambil saat salah satu stasiun TV Nasional meliput aktivitas perempuan berusia lebih dari 200 tahun ini).

Selain bertapa, buyut Rantima menghabiskan waktu sehari-hari dengan menganyam tikar dari daun kelapa. “Rahasia hidup sehatnya mungkin dari pola hidup dan pola makan. Buyut terbiasa makan makanan rebus dan bakar. Tidak pernah makan goreng-gorengan. Kalaupun menggunakan minyak itupun minyak klentik dari kelapa. Satu kalipun buyut Rantima tidak pernah makan nasi, dia biasanya mengkonsumsi akar-akaran, umbi-umbian seperti akar nangka, akar aren, tela, umbi, gembili yang direbus atau bakar,” katanya.

“Pernah suaatu kali saya tanya resep berumur panjang, buyut manjawab resepnya “Gusti Allah”,” lanjutnya.

Hj. Rantima merupakan salah satu orang yang berjasa dalam kehidupan Bunda Halimah (Pakar Herbal Indonesia), ia mengajari Bunda Halimah segala jenis herbal. “Ajaran beliau sedari kecil selalu saya ingat dibenak, sampai saya hafal ribuan tanaman herbal. Aneka penyakit bisa sembuh dengan tanaman herbal, itu sudah di buktikan pengobatannya melalui cek medis,” ujar Bunda Halimah.

IMG-20160220-WA0002 IMG-20160220-WA0006

Biografi perempuan tertua di dunia ini pernah tayang disalah satu media nasional Trans 7 pada tiga tahun silam. “Media nasional pernah meliput sosok buyut Rantima diusianya yang ke 203 tahun silam. Saat itu beliau masih bisa memasak, menganyam tikar dan beraktivitas meskipun penglihatannya sudah memudar,” cerita Bunda Halimah.

Kepergian buyut Rantima, memang tak terelakkan dari takdir, seolah tahu kapan ia akan kembali ke sang khaliq. Buyut Rantima memberi tanda sebelum kepergiannya untuk selama-lamanya. “Buyut saat saya tanya, ‘uyut maunya apa? Ia meminta ingin segera kembali ke sang pencipta di hari Kamis. Seolah ingin berpamitan, beliau minta disuapi setelah dua minggu taak mau makan apapun. Itu menjadi kenangan terakhir sebelum akhirnya Kamis (18/2) lalu beliau berpulang ke sang pencipta,” imbuh Bunda Halimah. (Bj05)

Tulis Komentar Pertama