Home News Update Tumpukan Sampah Ganggu Kegiatan Belajar Mengajar

Tumpukan Sampah Ganggu Kegiatan Belajar Mengajar

Tumpukkan sampah

Semarang, 10/2 (BeritaJateng.net) – Siswa Sekolah Dasar (SD) Negeri Srondol Wetan 04 Semarang terpaksa mengenakan masker saat mengikuti pembelajaran gara-gara bau sampah dari kontainer yang diletakkan di dekat sekolah.

Kepala SD Negeri Srondol Wetan 04 Semarang Widji Handani mengakui, kontainer sampah yang diletakkan persis di pojok kanan depan pagar sekolah itu sangat mengganggu pembelajaran para siswa.

Menurutnya, hampir setiap hari siswa belajar dengan mengenakan masker akibat bau sampah yang menyengat, apalagi saat pagi hari ketika truk pengangkut sampah mengambil sampah dari tempat pembuangan tersebut.

Meski dibatasi parit kecil, aroma sampah dari kontainer itu tetap tercium sampai halaman sekolah, terutama di ruang usaha kesehatan sekolah (UKS) dan ruang kelas VI yang terletak paling ujung kanan.

“’Masa’ ruang UKS berdekatan dengan kontainer sampah? Mestinya, kan ruang itu untuk tempat istirahat jika ada siswa sakit, jadi tidak bisa dipakai. Kasihan siswa, bau sampahnya sangat kentara,” tukasnya.

Bahkan, kata dia, ruang koperasi dan kantin yang semula berada di ujung kanan sekolah dipindahkan ke bagian lain karena khawatir masakan dan jajanan terkontaminasi dengan bau sampah yang menyengat.

Ia menjelaskan kontainer sampah itu diletakkan di dekat sekolah yang bersebelahan dengan Pasar Rasamala Semarang sejak 1,5 tahun lalu dan sudah dilaporkan, tetapi tidak ada tindakan dari pemerintah kota.

“Sudah kami laporkan ke Pemerintah Kota Semarang, namun belum ditindaklanjuti. Padahal, kontainer itu untuk tempat pembuangan sampah warga satu Kelurahan Srondol Wetan. Coba bayangkan?,” kata Widji.

Femorina Rajunitya (11), siswa kelas VI A SD Negeri Srondol Wetan 04 Semarang mengaku terganggu sekali dengan bau sampah yang menyengat sehingga terpaksa mengenakan masker ketika mengikuti pembelajaran.

“Sampahnya bau sekali, bikin sering pusing, mual, dan tidak konsentrasi (saat mengikuti pembelajaran, red.). Apalagi, kalau pagi hari. Kalau bisa, sampahnya dipindahkan ke tempat lain,” katanya.

Salah satu guru SD Negeri Srondol Wetan 4 Sri Lestari yang juga tinggal di kawasan itu menceritakan sebenarnya kontainer sampah itu sempat dipindah ke Lapangan Gaharu ketika Pasar Rasamala direnovasi.

“Saya sejak kecil tinggal di sini. Dulu, kontainer sampah itu belum ada. Baru ada beberapa tahun lalu, kemudian sempat dipindah ke Lapangan Gaharu. Sekitar 1,5 tahun lalu dikembalikan ke sini lagi,” katanya.

Masyarakat sekitar pun, kata dia, akhirnya mengidentikkan kontainer dan bau sampah menyengat dengan SD Negeri Srondol Wetan 04 Semarang, kata dia, sampai-sampai banyak yang menjuluki sebagai “SD sampah”.

“Imbasnya, banyak yang tidak mau sekolah di sini. Dapat siswa 30 orang/kelas saja sudah untung. Sekarang ini, paling-paling satu kelas hanya 25-26 orang. Padahal, dulu sekolah ini favorit,” katanya. (BJ05)