Home Alkisah True Story : Temanku Terkena HIV ?

True Story : Temanku Terkena HIV ?

247
0
ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

ADA satu yang akan aku ceritakan. Namanya Julio. Aku ketemu dia saat aku menjadi trainer pada pelatihan public speaking di salah satu hotel.

Dia mahasiswa berbakat. Selain pinter mendisain baju, dia juga jago masak dan ngedance. Sepertinya cocok, kalau kedepannya dia berkarier sebagai designer, chef atau dancer.

Pertemanan kami mengalir baik, hangat dan ceria. Kebetulan Julio juga senang humor. Pinter ngelucu dan gampang ketawa.

Dia sering bertandang ke rumahku, untuk sekedar membawakan oleh-oleh setelah pulang dari kampungnya di Kalimantan. Atau sekedar mengajakku keluar makan malam. Sesekali kami juga pergi karaoke, dugem, sampai piknik.

Lengkap sekali cerita keceriaan aku dan Julio. Singkatnya, pertemanan kami hampir memasuki usia satu tahun. Tak pernah berantem atau salah paham. Suatu hari ada pertanyaan Julio yang membuatku terhenyak.

“Kak, kalau tes darah itu kemana ya?” bunyi BBM Julio.
“Tes darah? Buat siapa?” balasku
“Buat aku kak!” jawabnya cepat
“Setahuku di rumah sakit atau di laborat. Coba kamu ke rumah sakit dulu.”

Aku memberi saran tanpa menanyakan apa maksud dia ingin tes darah. Selain tidak ingin membuat dia bingung memberi jawaban, aku sepertinya ‘sudah curiga’.

Selama hampir satu tahun berteman denganku, Julio terlihat selalu sendiri. Meski dia termasuk cakep dan keren tapi jarang bawa cewek yang dia kenalkan sebagai pacar.

“Ini temanku, ini sahabatku. Ini gankku,” begitu terus statmen Julio saat datang bawa cewek.

Meski tidak terang-terangan dia ‘mengungkap jati dirinya’ tapi tanda-tanda ke arah sana, sudah jelas. Dia kerap memakai lipsgloss, kerap mewarnai kukunya dengan kutek dan kerap memajang cowok-cowok macho di display picture BBM-nya.

Namun selama tidak ada statmen atau bukti, aku tidak akan memvonisnya.
Malam itu aku diundang teman ke sebuah kafe. Dia show reguler disana. Kami akan membicarakan job bersama.

Dalam perjalanan, otakku iseng mengingat Julio. Sepertinya ada kontak batin,Julio tiba-tiba BBM menanyakan aku dimana. Setelah aku kirim alamat kafe, lalu ia pun menyusulku. Kami duduk di sofa, sudut kafe mewah ini. Mulailah Julio bercerita.

“Kak, aku positif,” ungkap Julio pelan. Aku yang sedari tadi sudah ‘dapat firasat’ tentang itu, tetap tidak bisa kontrol. Ini statmen resmi Julio, bukan lagi dugaanku.

Luar biasa, aku langsung menangis sejadi-jadinya. Air mata ini mengucur sederas-derasnya.
Kenapa? Apa pentingnya? Buat apa menangisi Julio?

Aku tidak menangisi kematian dia yang mungkin tak lama lagi. Atau masa depan dia yang suram, atau nasib malangnya yang bertub-tubi. Dari kecil Julio tak memiliki orang tua. Dia tumbuh besar dari satu saudara ke saudara lainnya.

Tapi aku menangisi kebodohannya? Logikanya yang hilang! Akal sehatnya yang hancur.

Akhirnya dia cerita, awal mula dia terjangkit virus mematikan itu. Dua bulan berturut-turut aktifitas sex tak lazim bersama pacarnya tergolong tinggi. Setiap malam tak pernah absen dalam seminggu. Pacarnya, adalah seorang pria tampan yang gila sex. Satu malam Julio bisa sampai 6 kali ‘melayani’ pacar bejatnya itu.

“Aku sangat mencintainya Kak. Dia pacar terbaikku. Aku relakan diri ini seperti ini karena cintaku begitu dalam padanya.”

Julio kini harus menanggung sakitnya sendirian. Setelah pertemuan kami di kafe, dia mengajakku bertemu pacarnya di sebuah hotel.

“Maaf ya, kamu hanya pelarianku. Aku tidak sungguh-sungguh mencintaimu. Aku punya kekasih sejati. Kamu jangan coba-coba menjebak aku dengan omong kosongmu.”

Itu kata-kata pedas yang keluar dari mulut pacar Julio. Dia lari dari tanggung jawab!

“Aku hanya ingin kamu peduli saat aku seperti ini Beb. Aku rela kok mati karenamu. Tapi please, jangan acuhkan aku dalam keadaan seperti ini,” pinta Julio.

Aku hanya terdiam, menyaksikan dua mahluk satu jenis kelamin ini saling adu mulut dan saling klaim.

“Aku sudah siapkan ini dari dulu. Sudah sejak kemarin aku tes. Hasil terbaruku, negatif. So? Kamu jangan coba-coba menjebakku ya!” hardik pacar Julio. Kali ini lebih ganas. Dengan mata membulat dan tegang. Dia sangat marah.

Makin runyam

Tak ada hasil. Julio justru makin jatuh setelah pacar bejatnya mengungkap ‘penghinaan’ itu. Tidak cinta, tapi minta jatah terus waktu itu? Terus sampai bikin Julio sekarat? Setelah itu minggat!

Wow…

Aku dan Julio kini berpisah kota. Dia kembali ke kota asalnya di Kalimantan.

“Jaga rahasiaku ya Kak,” pesan Julio kala itu.

Pertanyaanku berikutnya adalah apakah ini amanah yang wajib aku jaga? Atau justru aku menjadi mulia jika berkhianat? Menyelematkan jiwa-jiwa lain dari sasaran keputus asaan Julio.

Selepas dari kota ini Julio, makin beringas. Berkali-kali dia menunjukan ‘sedang dalam’ hubungan dengan sejumlah pria.

Dan tentu saja, Julio tetap akan menutup rapat rahasianya dari pacar-pacarnya itu. Rahasia ini hanya 3 orang yang tahu, aku, Julio dan pacarnya.

Dan keempatnya adalah datangnya berita duka kelak. Siapa duluan nantinya yang akan terkena dampak ‘tewas’ akibat keliaran Julio berbagi maut itu…

***

Catatan SHINTA ARDHAN, Reporter BeritaJateng.net