True Story : Curhat Pelacur Senior

Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

SAAT awal menjadi penyiar radio, aku punya banyak pendengar dekat. Salah satunya, adalah Mbak Wulan. Saat itu umurnya sekitar 40 tahun. Dia sosok yang cantik, sexy dan menggoda. Sekilas wajah mirip Lulu Tobing.

Bermula dari sering menelpon minta lagu, lalu kami menjadi akrab. Dia kerap meminta aku datang ke rumahnya. Bak tamu istimewa, dia selalu menyambutku dengan penuh servis.

Tiap hari makan di restoran. Jalan-jalan ke mal. Seneng-seneng aja isinya. Mbak Wulan adalah pengusaha sukses. Dia memiliki beberapa butiq baju; baju muslim, baju casual dan baju olah raga. Dia juga masih punya toko lain jual alat tulis, sepatu dan tas. Total ada 3 toko yang dia kelola.

Aku yang masih lugu dan polos kala itu tak menaruh prasangka apapun, tentang siapa dan bagaimana latar belakang Mbak Wulan. Yang aku tahu, dia cantik, duitnya banyak, sering royal makan enak plus hobinya ngerokok. Hahaha….

Keakraban kami sudah level tinggi. Bener-bener seperti kakak adik. Kalau aku main ke rumahnya, pas pulang dia selalu ngasih aku uang. Tidak sedikit pula, kala itu dapatnya 200 ribu. Dan itu sering. Wah mayan, bisa buat transport ke kampus berhari-hari.

“Besok bisa temeni aku belanja ke Solo? Aku mau ambil barang baru ke Klewer,” tanya Mbak Wulan lewat telepon kantor. Aku lihat kalender, memastikan besok itu hari apa.

“Bisa Mbak, kebetulan besok Sabtu. Tugasku buat rekaman sudah selesai. Aku ke rumah jam berapa?” “Kalau bisa malam ini aja, besok berangkat pagi.”

Esoknya dengan sebuah taxi kami meluncur ke Solo. Tujuan utama ke Pasar Klewer. Dia borong banyak kaos, celana kolor, baju muslim dan daster. Semua dikemas menjadi satu kardus besar.

“Mampir ke temanku dulu ya,” ajaknya begitu kami sudah berada di dalam taxi. Aku pasti mengangguk. Yang aku pikir kan dolan dan senang-senang.

Taxi memasuki halaman rumah yang tidak begitu mewah. Ketika Mbak Wulan turun, beberapa teman menyambutnya dengan ketawa cekikikan.

“Hei Resy…suwi rak mrene,” sapa seorang perempuan. Kok Resy? Namanya kan Wulan.

Ok. Aku masih polos dan mengikuti langkah Mbak Wulan ke kamar teman-temannya. Tampak rumah sederhana itu terbagi menjadi beberapa kamar. Diluar sana ada beberapa laki-laki berbadan gendut, rambut gondrong ndeso.

Sambil ketawa girang menjijikan dia minum miras murahan ditemeni perempuan paruh baya, dan berbaju minim plus rokok ditangan.

Mbak Wulan meninggalkan aku di kamar bersama dua perempuan berbaju tank top dan celana pendek. Hotpant murahan, modelnya enggak menarik.

“Oh, kamu badannya bagus ya, kecil kurus gitu. Sekarang lagi nge trend ya di sana badan-badan kayak kamu gitu!,” kata perempuan pertama yang aku tebak umurnya sudah 45-an.

Wajahnya putih merana. Kulit dasar sudah terkelupas sadis berkat pemakaian produk kosmetik murahan.
Aku yang awalnya bingung lama-lama sadar. Oh ini tuh komplek kos pelacur. Oh jadi yang diluar itu pria-pria hidung belang?? Oh jadi Mbak Wulan itu dulunya….??? Oh jadi mereka itu….???

“Hehe..Mbak, maaf ya tak kasih tahu. Aku tuh penyiar radio sama reporter. Kesini karena diajak Wulan belanja. Aku kenal Wulan ya di radio itu. Dia jadi pendengarku,” jelasku tajam.

Lagian, tuh duo pelacur senior ini gak lihat apa aku datang dengan penampilan seperti apa?
Penampilanku sangat casual, kaos orange, jeans biru tua, asesoris kalung dan gelang ngerock plus sepatu kets dan tas ransel.

Hello…..Tapi sudahlah. Justru aku mendapat informasi hangat.

“Oh kamu penyiar radio?,” ujar perempuan kedua setelah aku beri kartu nama. Beruntung sekali, kartu nama kerjaku ada di tas jadi bisa aku colokkan ke mata dua WTS itu.

“Wah enak ya si Resy itu sudah ‘dipungut’ orang ya sekarang. Uripe wes penak. Yang melihara jendral polisi to dia?,” ujar perempuan kedua yang umurnya tak jauh juga dari yang pertama.

“Yang ngenes tu ya kita ini, sudah sampai umur segini masih saja kerja begini. Enak nek wes dipelihara orang Mbak, gak perlu praktek terus.”

Sambil aku dengarkan curhat mereka, mataku larak lirik ke seluruh ruangan kamar dua pelacur ini. Kalau dari ‘perabot’ yang ada tampak dua pelacur tua ini tarifnya dibawah standar. Ada dua dipan dengan kasur kapuk yang sudah lepek.

Ini Artinya mereka ngekos satu kamar barengan. Ditengah dipan itu terdapat lemari kecil yang digunakan menyimpan aneka kosmetik murahnya.

“La dulu kenal Resy dimana Mbak?,” tanyaku selanjutnya.

“Bukan disini. Tapi di club mewah dong. Kelas kami dulu juga bukan disini. Resy emang dari dulu laris,” jawab pelacur pertama

“Tapi kamu jangan nanya-nanya Resy ya soal masa lalunya,” pinta pelacur kedua.

“Biar dia punya hidup baru. Doakan kami juga segera punya hidup baru ya Dek. Kami juga wes capek hidup kotor begini, capek dihina laki-laki,” kata mereka.

Hehehe…tuh yang pelacur aja pengen dihargai…masak yang belum pelacur kok..?! Ya deh nanti aku doakan tapi kalau sudah aku doakan ya bener-bener tobat lo Mbak, ojo pura-pura lelah tapi masih betah loh yaa…idih…dah

Obrolan kami terhenti ketika Mbak Wulan masuk kembali ke kamar dan mengajakku pulang. Sepanjang jalan pulang, obrolan Mbak Wulan tak menyebut sedikitpun tentang TKP yang baru saja kami kunjungi tadi.

Seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah tidak mampir kemana-mana…sial..hahaha…

Entah dia mikir aku terlalu polos atau sebenarnya ini merupakan bentuk kejujurannya? Dia ‘berani’ menunjukan jati diri sebenarnya.

Catatan Kecil dari SHINTA ARDHAN, Reporter BeritaJateng.net

SHARE

Tulis Komentar Pertama