Home Headline Tradisi Syawalan, Ratusan Anak Berkumpul Berebut Kupat Jembut 

Tradisi Syawalan, Ratusan Anak Berkumpul Berebut Kupat Jembut 

416
Tradisi Syawalan, Ratusan Anak Berkumpul Berebut Kupat Jembut 

Semarang, 12/6 (BeritaJateng.net) – Seru, ya begitu suasana tradisi syawalan, atau peringatan seminggu usai lebaran di Kampung Jaten Cilik, Kota Semarang sejak subuh, Senin (12/6).

Diawali dengan menyalakan mercon (kembang api) setelah Shalat Subuh sebelum matahari terbit, ratusan anak anak mulai berkumpul di samping Masjid menunggu warga yang memanggil untuk di beri kupat jembut (kupat tauge) dan uang uang.

Yaa.. meskipun bernama kupat jembut, namun kuliner ini jauh dari kesan porno. Penyebutan kupat jembut, berawal dari bercampurnya lingkungan religius dan urban di Kawasan Jaten Cilik, serta sejarah kelam perang dunia kedua di Indonesia.

Disaat perang dunia kedua, warga yang mengungsi berusaha membuat makanan darurat untuk merayakan idul fitri, dengan meracik ketupat tanpa kuah. Akhirnya muncul lah ide, mengisi dalam bagian ketupat dengan tauge dan sayur kelapa.

Tradisi Syawalan, Ratusan Anak Berkumpul Berebut Kupat Jembut

“Ini dulu sebenarnya sejarahnya sekitar 1950 kurang lebih setelah perang dunia kedua itu perang dunia ke dua tentara belanda yang menyerang ke daerah sini, akhirnya tahun 49 ngungsi ke daerah mranggen, pulang ngungsi semua karena keadaan kesederhanaan akhirnya ada istilah itu, kupat tauge, kupat yang isinya tauge dikasih sambel kelapa,” ungkap Munawir, tokoh masyarakat setempat.

Kebiasaan ini berlanjut dengan membagi-bagikan uang (wisit) ke anak anak sebelum matahari terbit, hingga sekarang.

Seluruh warga kampung berpartisipasi membuat kupat jembut di masing-masing rumah. Harapannya, anak anak jadi lebih senang, merayakan tradisi syawalan dengan suasana gembira. (Nh/El)