Tiga Titik Rawan Macet Di Semarang Perlu Penanganan Serius

Walikota Semarang Hendrar Prihadi meninjau proyek pembangunan Underpass Jatingaleh.
         SEMARANG, 15/6 (BeritaJateng.net) – Terdapat sejumlah titik rawan kemacetan di Kota Semarang menjelang arus mudik lebaran 2017. Mulai dari pintu masuk di jalur utama di daerah Mangkang hingga Kalibanteng, jalur Kaligawe Genuk yang rawan rob, hingga adanya proyek Underpass Jatingaleh yang tidak bisa diselesaikan sebelum lebaran.
           Pembangunan Underpass Jatingaleh tersebut diperkirakan baru bisa selesai bulan Juli. Artinya, titik-titik tersebut menjadi daerah rawan kemacetan yang harus bisa diantisipasi sejak dini.
           “Kota Semarang termasuk kota yang dilewati para pemudik di jalur Pantura. Oleh karena itu, Pemkot Semarang harus ikut menyiapkan segala hal yang mendukung kelancaran arus mudik,” kata anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang, Suharsono, Rabu (14/6).
         Berbicara persiapan arus mudik, kata dia, ada dua hal yang harus diperhatikan, yakni arus mudik jalur luar kota dan jalur dalam kota. Untuk jalur arus mudik luar kota, titik paling rawan kemacetan adalah perbatasan Semarang Kendal, terutama dekat Terminal Mangkang. “Biasanya volume kendaraan akan meningkat pesat, sehingga perlu antisipasi dari Pemerintah Kota untuk terus berkoordinasi dengan kepolisian maupun Pemprov. Ini agar tidak terjadi kemacetan parah,” katanya.
             Kemudian titik yang juga rawan macet adalah perempatan Jrakah. Jarak traffic light di titik tersebut terlalu berdekatan. Selain itu juga disebabkan adanya banyak kendaraan yang antre hendak masuk tol Krapyak-Salatiga. “Titik yang sangat rawan selanjutnya adalah jalur sekitar Terminal Terboyo. Adanya rob yang setiap sore melanda daerah tersebut tentu menjadi penyebab utama kemacetan. Apalagi jika volume kendaraan tinggi. Tidak saat mudik saja macet karena rob, apalagi ada penambahan volume saat mudik,” katanya.
             Oleh karena itu, Pemkot Semarang harus menyiapkan pompa-pompa berkapasitas besar agar membantu menyedot rob yang menggenangi badan jalan. “Serta menambah memperbanyak pompa portable,” katanya.
              Sedangkan untuk jalur di dalam kota, tentu jika ada aspal yang rusak atau jalan berlubang akan sangat menggangu kelancaran lalu lintas. Kondisi jalan berlubang sangat rawan menjadi pemicu kecelakaan. “Pemkot harus rutin mengecek, apabila ada jalan berlubang, Pemkot harus segera memperbaikinya,” katanya.
              Selain itu, jalan yang menghubungkan antar kampung atau antar kelurahan harus menjadi perhatian dan prioritas perbaikan Dinas Pekerjaan Umum (PU). Termasuk juga proyek pembangunan Underpass Jatingaleh yang belum selesai harus disiapkan strategi untuk antisipasi kemacetan. “Tentunya agar masyarakat nyaman dan senang. Setiap titik keramaian seperti di pasar, sekolah atau rumah sakit, perlu ada petugas dari Dishub untuk standby agar jangan sampai terjadi kemacetan,” katanya.
                Jalan yang masih dalam proses pengerjaan penyelesaian sesuai kontrak, tentu harus segera dikebut. “Syukur bisa diselesaikan, jika tidak selesai, maka kewajiban pelaksana untuk menjaga dari kerawanan kecelakaan lalulintas maupun kemacetan,” imbuhnya.
                Sekretaris Dinas Perhubungan Kota Semarang Tri Wibowo mengatakan proyek pembangunan Underpass Jatingaleh diperkirakan baru bisa diselesaikan pada Juli mendatang. Sehingga jalur tersebut belum bisa dilalui oleh para pemudik. “Kami sudah mengantisipasi kemacetan arus mudik. Di antaranya dengan menyiapkan beberapa jalur alternatif,” katanya.
                Jalur alternatif tersebut bertujuan untuk memecah arus lalu lintas. Sehingga diharapkan tidak terjadi penumpukan arus lalu-lintas. “Kami mengimbau agar pemudik melintas di jalur-jalur alternatif. Selain itu, kami menyediakan posko-posko, sehingga apabila pengendara lelah bisa istirahat di posko-posko yang telah disiapkan,” katanya. (El)

Tulis Komentar Pertama