Home Lintas Jateng Tiga Tahun Hilang, Pasutri Asal Tembalang Semarang Diduga Gabung Gafatar

Tiga Tahun Hilang, Pasutri Asal Tembalang Semarang Diduga Gabung Gafatar

Semarang, 26/1 (BeritaJateng.net) – Diduga kuat bergabung dengan organisasi masyarakat (ormas) Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), Harsono warga Rejosari Gumuk I Nomor 4 RT 02 RW XI, Kelurahan Rejosari, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang, melaporkan anak dan menantunya karena telah menghilang selama tiga tahun.

Kedua pasutri yang dilaporkan adalah Adiv Nugroho yang merupakan anak Harsono dan menantunya Inka Pratiwi. Pasutri ini meninggalkan kontrakan di wilayah Tembalang, Kota Semarang usai pesta pernikahan. Saat itu, keduanya menjabat sebagai Kepala Sekretariat Gafatar DPD Jawa Tengah.

“Saya ke sini (Mapolrestabes Semarang) ditemani besan saya, bu Partini. Putri bu Partini bernama Inka Pratiwi menikah dengan anak lelaki saya bernama Adif Nugroho. Tetapi, pada bulan April 2013 atau selang dua bulan setelah pernikahan, Adif bersama Inka yang hamil muda menghilang ikut Gafatar di Kalimantan dan sampai sekarang tidak pernah memberikan kabar,” ujar Harsono, Selasa (26/1).

Diketahui, Adif Nugroho merupakan lulusan Fakultas Teknik Kimia Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, sedangkan istrinya, Inka, lulusan Teknik Mesin dari Perguruan Tinggi yang sama.

Dikisahkan Harsono, meski anaknya (Adif) menyandang Sarjana Kimia, namun ia memutuskan untuk berwiraswasta dengan memproduksi makanan ringan berupa ceriping singkong.

Hasil produksinya lantas di pasarkan di beberapa kota termasuk luar Semarang, seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya.

Sementara, Inka yang merupakan lulusan Sarjana Teknik Mesin, kali terakhir bekerja di kantor service dan bengkel Daihatsu Zerang, yang berada di Jalan dr Cipto, Semarang.

Bahkan, menurut ibunya (Partini) mengatakan bahwa putrinya itu sempat dipromosikan sebagai Kepala bengkel di perusahaan tesebut. Namun, sebelum jabatan itu disandangnya, Inka bersama suami Adif telah meninggalkan rumah, kuat dugaan keduanya ikut begabung dengan Gafatar ke Kalimantan.

Baik Harsono maupun besannya Partini, bahwa dugaan anak-anaknya bergabung dengan Gerakan Fajar Nusantara bukan tanpa alasan.

Dijelaskan Harsono, dulu anaknya sering mengenakan jaket bertuliskan Gafatar. Bahkan, tidak jarang hingga bermalam di kantor Gafatar yang berada di jalan Lamper Mijen, Semarang. Sedangkan Inka, aktif di Gafatar sejak masih berstatus sebagai mahasiswa.

“Saat itu saya belum tahu apa apa, yang saya ketahui ada kegiatan sosial. Baru mengetahui ada istilah Gafatar ya sekarang ini,” kata Partini dengan raut wajah yang sedih.

Partini menambahkan, setahun setelah pergi, Inka sempat mengirim foto anaknya yang berjenis kelamin wanita ke akun BBM milik keponakannya. Namun, sejak saat itu, mereka (anak, menantu, dan cucu) menghilang, dan hingga kini tak ada kabar yang diterima oleh keluarganya.

Saat meninggalkan rumah, dikatakan Harsono, memang tidak menjual rumah atau tanah, seperti layaknya anggota Gafatar lain. Namun, Adif dan Inka pergi dengan membawa uang yang didapat dari para tamu yang hadir dalam pernikahannya.

“Jadi, Adif tidak menyisakan uang amplop di rumah. Semua, termasuk kado telah dibawa pergi ke Kalimantan”, terang Harsono.

Ketika ditanya alasan, maksud dan tujuan Adif pergi ke Kalimantan, sang ayah Harsono memaparkan saat itu anaknya hanya mengatakan ada potensi pekerjaan yang menjanjikan di Kalimantan.

Terlepas semua itu, Harsono dan besannya, Partini mengaku merasa kengen dan berharap anak-anaknya dapat kembali berkumpul bersama keluarga di Semarang.

“Jujur saja saya ingin bertemu dan menggendong cucu saya, yang sampai sekarang belum tahu wajahnya,” pungkas Partini dengan penuh harap. (Bjt02)