Home Hukum dan Kriminal Tertarik Lihat Benda Ghaib, Aris Jadi Dukun Gadungan Pengganda Uang

Tertarik Lihat Benda Ghaib, Aris Jadi Dukun Gadungan Pengganda Uang

806

Gajahmungkur-20150707-00995
Semarang, 7/7 (BeritaJateng.net) – Niat dukun pengganda uang bernama Aris Ardianto (45) warga Ngablak Indah, Genuk ini dilakukan karena tertarik benda-benda ghaib yang berada di Pasar Johar.

“Awalnya tertarik lihat benda gaib di Pasar Johar dan beli pernak-pernik seperti kotak berisi kembang setaman, tiga jinglot, minyak wangi misik, rantai babi dan pusaka Nogopetolo,” katanya.

Ari menjelaskan bahwa untuk tampil lebih percaya menjadi seorang supranatural pengganda uang, ia harus modal membeli jinglot rata rata Rp. 200 ribu.

“Saya beli jinglot supaya calon korban percaya akan keberadaan saya,” ungkapnya.

Namun, dibalik itu tidak tahu persis khasiat khasiat barang mistis yang dibeli di pasar Johar yang telah luluh lantah akibat terbakar.

“Sebetulnya saya tidak tahu guna barang barang mistis maupun minyak wangis misik. Kalau dibilang bisa menggandakan terus terang tidak punya ilmu,” akunya ayah empat orang anak.

Namun dari hasil ulahnya tersebut berhasil menipu sebanyak 10 orang mencapai tidak kurang Rp. 700 juta telah habis untuk diberikan kepada rekannya Eko dan untuk kebutuhan sehari hari dan telah habis dikembalikan para korban. 

“Jadi saya bagi kepada rekan saya Rp45 juta sebagai uang transport dan upah insentif,” tuturnya.

Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Buharnudin mengatakan terungkapnya kasus penipuan dengan modus  pengandaan uang berdasarkan laporan dari  korban. Salah satu korban, Joko Widodo (42) warga  Perum Handik Makmur II/17  Karangroto,Genuk, Semarang .

“Korban oleh sang dukun palsu itu dimintai mahar Rp 70 juta. Dari uang  puluhan juta itu korban dijanjikan uang penggandaan Rp 1 miliar,” jelas Buharnudin.

Menurut Burhanudin bahwa  kedua tersangka selama tiga tahun terakhir ini  telah memangsa sedikitnya 10 korban.  Dan, tiap korban mengalami kerugian dengan jumlah variasi mulai Rp 25 juta, Rp 30 juta sampai Rp 75 juta. 

“Selama tiga tahun terakhir ini jumlah korban sekitar 10 orang. Dari jumlah korban itu pelaku mengantongi uang tidak kurang Rp 700 juta,” tandasnya.(BJ04)

Advertisements