Home Hukum dan Kriminal Terpidana Mati Dapat Pengamanan Khusus

Terpidana Mati Dapat Pengamanan Khusus

image
Ilustrasi

Cilacap, 2/2 (Beritajateng.net) – Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) memberikan pengamanan khusus bagi terpidana mati yang upaya hukumnya sudah selesai, kata Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kemenkumham Provinsi Jawa Tengah Yuspahruddin.

“Terpidana mati di Nusakambangan banyak, ada 53 orang, sebenarnya sudah kami perhatikan secara khusus. Setelah ada berita keluar (terkait terpidana mati yang grasinya ditolak Presiden RI, red.), kami harus sudah mulai memberikan pengamanan khusus bagi terpidana mati yang sudah habis upaya hukumnya,” kata Yuspahruddin saat dihubungi dari Cilacap, Senin.

Ia mengatakan hal itu kepada Antara terkait pemberitaan dari Kejaksaan Agung mengenai nama-nama terpidana mati yang grasinya ditolak Presiden Joko Widodo (Jokowi), beberapa di antaranya diketahui menghuni sejumlah lembaga pemasyarakatan di Pulau Nusakambangan, Cilacap.

Lebih lanjut, dia mengatakan jika Kejaksaan Agung telah mengumumkan nama-nama terpidana mati yang bakal dieksekusi, pihaknya akan segera mengisolasi orang-orang tersebut.

Akan tetapi hingga saat ini, kata dia, Kejaksaan Agung belum mengumumkan nama-nama terpidana mati yang akan dieksekusi dalam waktu dekat.

“Sekarang belum ada nama-nama itu. Jadi, kami baru pengamanan secara umum tapi khusus yang terpidana mati memang kita perhatikan,” tegasnya.

Dalam sejumlah pemberitaan disebutkan bahwa Kejaksaan Agung telah menerima 11 surat Keputusan Presiden yang menolak grasi terpidana mati.

Ke-11 terpidana mati yang grasinya ditolak Presiden Jokowi, yakni Syofial alias Iyen bin Azwar (warga negara Indonesia), Harun bin Ajis (WNI), dan Sargawi alias Ali bin Sanusi (WNI), ketiganya terlibat dalam kasus pencurian, pemerkosaan, dan kekerasan yang menewaskan tujuh warga Suku Anak Dalam di Provinsi Jambi pada 29 Desember 2000.

Selanjutnya, Zainal Abidin (WNI) dalam kasus kepemilikan narkoba, Mary Jane Fiesta Veloso (WN Filipina) terlibat kasus penyelundupan narkotika jenis heroin 2,6 kilogram di Bandara Adi Stujipto, Yogyakarta, Myuran Sukumaran alias Mark (WN Australia) dalam kasus kepemilikan 334 gram heroin di Kuta, Bali.

Serge Areski Atlaoui (WN Prancis) yang terlibat dalam operasi pabrik ekstasi dan sabu-sabu di Cikande, Tangerang, dengan barang bukti yang disita berupa 138,6 kilogram sabu-sabu, 290 kilogram Ketamine, dan 316 drum Prekusor.

Martin Anderson alias Belo (WN Ghana) dalam kasus kepemilikan heroin 50 gram di Kelapa Gading, Jakarta, Raheem Agbaje Salami (WN Cordova) kasus penyelundupan heroin 5 kilogram pada tahun 1999, Rodrigo Gularte (WN Brasil) kasus penyelundupan 19 kilogram kokain pada tahun 2004, dan Andrew Chan (WN Australia) dalam kasus penyelundupan 8 kilogram heroin pada 2005.

Informasi yang dihimpun Antara di Cilacap, dari 11 terpidana mati itu, tujuh orang di antaranya menghuni sejumlah lembaga pemasyarakatan di Pulau Nusakambangan, yakni Syofial alias Iyen bin Azwar, Harun bin Ajis, Sargawi alias Ali bin Sanusi, Zainal Abidin, Serge Areski Atlaoui, Martin Anderson alias Belo, dan Rodrigo Gularte.(ant/Bj02)