Home Headline Termasuk Jalur Rawan, Jalur Manyaran Seharusnya Bebas dari Angkutan Berat

Termasuk Jalur Rawan, Jalur Manyaran Seharusnya Bebas dari Angkutan Berat

1218
0

SEMARANG, 11/01 (Beritajateng.net) – Kasus kecelakaan karambol yang melibatkan satu buah truck, satu mobil, tiga buah sepeda motor dan mengakibatkan dua korban meninggal dunia serta empat orang luka berat dan ringan pada hari Rabu kemarin ditindaklanjuti oleh Satlantas Polrestabes Semarang dengan melakukan pemetaan di TKP di turunan Manyaran, Kamis (11/01).

Untuk mencegah kecelakaan tersebut kembali terulang,  muncul wacana untuk menutup jalan tersebut bagi kendaraan berat muncul.

“Tadi siang saya sampaikan Kanit Dikyasa untuk melakukan pemetaan di sekitar TKP mengukur panjang turunan, sudut elevasi tanjakan, serta lebar luas jalan dan berapa pusat keramaian sehingga itu nanti bisa menjadi dasar kita untuk menyampaikan kepada dishub  melalui forum lalulintas,” ungkap Kasatlantas Polrestabes Semarang, AKBP Yuswanto Ardi.

Dia menegaskan kembali bahwa jalur tersebut jalur larangan kendaraan berat. Kemudian ia juga ingin pihak dishub kemudian melengkapi infrastruktur baik berupa rambu larangan maupun pita marka kejut. 

“Pita kejut juga perlu untuk kendaraan biasa agar waspada karena memang disitu daerah rawan,” imbuhnya. 

Sementara itu pengamat transportasi Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno mengatakan, persoalan tonase, saat ini sudah sering dilanggar. Ia menilai setelah kendaraan berat dilarang melintas di Ngaliyan kini pengendara mencari rute baru salah satunya turunan Manyaran tersebut.

“Padahal yang di Ngaliyan saja saya lihat sering dilanggar, ini Polantas harus tegas menindaknya,” tambahnya.

Ia setuju jika kecelakaan tersebut bukan hanya kesalahan sopir. Menurutnya pemiliki barang, pemilik kendaraan juga harus diperiksa. “Mereka juga harus tanggungjawab, pemilik mobil, pemilik barang harus dijerat hukuman,” pungkasnya.(NG/BJ)