Home Headline Tanah Retak, Warga Dua Desa di  Jenawi Mengungsi

Tanah Retak, Warga Dua Desa di  Jenawi Mengungsi

Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

Karanganyar, 15/2 (BeritaJateng.net) – Karanganyar yang berada di wilayah lereng gunung Lawu tepatnya di Kecamatan Jenawi  merupakan salah satu wilayah yang masuk zona merah rawan longsor.

Sejak Selasa (10/2/2015) lalu, terjadi pergerakan tanah yang menyebabkan tanah retak dan sebagian lantai rumah ambles. Pasalnya beberapa hari wilayah Jenawi terus diguyur hujan deras.

Salah satunya berada di desa  Desa Balong dan Desa Menjing, Kecamatan Jenawi. Ratusan warga desa terpaksa  mengungsi karena tahan di lokasi tempat tinggalnya mengalami pergetrakan dan pergesaran yang cukup membahayakan.

Karena takut tanahnya amblas atau longsor warga desa  Desa Balong dan Desa Menjing, Kecamatan Jenawi memilih untuk mengungsi dan mendirikan  posko pengungsian darurat yang didirikan di sejumlah lokasi sejak hari Sabtu (14/02/2015) kemarin.  

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar, Nugroho  mengakui memang ada sejumlah warga yang mengungsi karena terjadi rekahan dan pergeseran tanah yang cukup luas.

“Ada sekitar  215 warga Dusun Jetis Desa Balong mengungsi ke balai desa. Para warga ini sudah menginap di sana tadi malam,” jelasnya saat dihubungi beritajateng.net melalui  telepon selulernya, Minggu (15/2/2015).

Menurut Nugroho, akibat adanya  rekahan tanah yang ada di rumah warga cukup mengkhawatirkan, mereka lebih memilih untuk mengungsi sambil  menunggu rekahan tanah berhenti menjalar. 

Khusus wilayah Desa Menjing jelas Nugroho, tim evakuasi dari BPBD dan lintas sektoral sudah menyiapkan enam titik lokasi pengungsian di di enam rumah dan tempat ibadah.

“Kebutuhan logistik ratusan penduduk di dua desa dipenuhi BPBD dan Palang Merah Indonesia (PMI) Karanganyar,” lanjutnya. 

Pihak BPBD Karanganyar dibantu para relawan rutin memantau kondisi rumah warga yang berada di zona rawan ambles. Sebenarnya di lokasi tersebut sudah sering mengalami pergerakan tanah sejak 1980-an Namun, peristiwa tanah bergerak  yang terjadi beberapa hari terakhir kondisinya cukup parah.

Nugroho juga menjelaskan selama empat hari terakhir rekahan tanah tersebut membuat badan jalan kampung rusak, dinding kaca rumah warga mulai  pecah dan kondisi lantai mulai tidak rata dan sebagian ambles. 

Nugroho belum bisa memastikan sampai kapan warga desa akan bertahan di pengungsian. Sampai saat ini ada sekitar  38 keluarga terdampak rekahan tanah di Dusun Jambon Desa Menjing dengan berbagai tingkat rumah yang berbeda. (BJ24)