Home Headline Tak Dapat Pupuk, Puluhan Petani di Blora Gruduk Kios Pupuk

Tak Dapat Pupuk, Puluhan Petani di Blora Gruduk Kios Pupuk

186

BLORA, 13/1 (BeritaJateng.net) – Puluhan petani di desa Tempellemahbang, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, Jawa Tengah gruduk kios pupuk milik UD Dua Pilar Utama Rabu (13/1).

Mereka menanyakan jatah pupuk non subsidi yang biasanya ia dapatkan dari kios tersebut, karena kartu tani mereka sudah ditumpuk di kios sejak dulu.

Namun akhir-akhir ini, mereka telat mendapatkan pupuk, sehingga ia meminta kartu taninya kembali karena khawatir disalahgunakan, lantaran PIN mereka telah diganti dengan angka yang sama semua untuk memudahkan transaksi.

Kapolres Blora AKBP Wiraga Dimas Tama melalui Kapolsek Jepon Iptu Supriono, membenarkan kejadian itu, bahwa maksud dan tujuan kelompok tani mendatangi Kios UD Dua Pilar Utama adalah untuk mengambil kartu tani yang posisinya ada di Kios UD Dua Pilar Utama.

“Karena ada kekhawatiran dari anggota kelompok Tani, bahwa kartu tani akan di salahgunakan dan adanya kekhawatiran kelangkaan pupuk,” Ujar Kapolsek Jepon

Iptu Supriyono menjelaskan dari 72 anggota kelompok tani yang sudah mengambil pupuk sebanyak 24 orang, sisanya belum mengambil, dan anggota kelompok tani menghendaki Kartu Tani di bawa masing-masing pemilik kartu.

Sementara itu, pihak UD Dua Pilar Utama, pemilik kios di Desa Tempellemahbang, yang namanya tidak mau disebut, mengaku, pihaknya tidak bisa memberikan pupuk subsidi secara merata kepada para pemilik kartu tani, sehinga para petani meminta kartu taninya.

“Mereka kesini tadi, karena saya gak bisa membagi pupuk secara merata dan kontinyu seperti dulu, sesuai yang diharapkan petani,” ucapnya.

Padahal, lanjut pemilik kios, dirinya juga tidak tahu kenapa sejak Oktober 2020 lalu jatah pupuk non subsidi dari agen yang biasanya lancar, jadi tersendat. Sehingga ia tidak dapat memenuhi kuota petani yang sebelumnya sudah menumpuk kartu taninya.

“Saya sendiri tidak kebingungan, dari distributor di Kecamatan Jepon yang biasanya memberi pupuk ke saya, sekarang berhenti. Katanya kuota sudah habis di 2020. Sehingga di 2021 yang seharusnya masih ada sisa kuota, saya tidak dapat,” jelasnya.

Pihaknya juga mengaku bahwa selama ini tidak pernah meminta kartu tani dan buku tabungan untuk berada di kiosnya. Namun itu semua berdasarkan kebijakan dari atas, untuk mempermudah nanti saat pengambilan.

“Tujuan para petani tadi pada mau meminta buku tabungan dan kartu tani yang sebelumnya saya bawa.Dan tadi sudah saya berikan sesuai tuntutan mereka,” tutupnya. (Her/El)