Tahun Terakhir Memimpin, Ganjar Diminta Fokus Turunkan Angka Kemiskinan

SEMARANG, 29/8 (Beritajateng.net) – Menginjak usia ke lima tahun kepemimpinan Gubernur Ganjar Pranowo, persoalan kemiskinan menjadi sorotan banyak pihak. Hal ini disebabkan angka kemiskinan di Jateng 13,32 persen lebih tinggi dibanding angka kemiskinan nasional 10,6 persen.

Ketua DPRD prov Jawa Tengah Rukma Setyabudi mengharapkan agar Gubernur Jateng Ganjar Pranowo beserta Wagub Heru Sudjatmoko fokus menurunkan angka kemiskinan tersebut pada satu tahun terakhir kepemimpinannya.

“Pengentasan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat harus menjadi prioritas di tahun terakhir,” katanya.

Pemprov diminta membuat program yang langsung menyentuh kepentingan masyarakat kecil. Tentu hal tersebut dilakukan tanpa mengesampingkan pembangunan di bidang lainnya.

“Selama ini pembangunan infrastruktur memang diharapkan membantu meningkatkan kesejahteraan dan memutar roda perekonomian. Namun faktanya angka kemiskinan masih tetap tinggi,” ujar politisi PDIP ini.

Dia berharap angka kemiskinan bisa ditekan menjadi single digit. Rukma mencontohkan, Pemprov bisa membantu memberi stimulant bagi para pelaku UMKM. Sebab selama ini para pedagang kecil belum bisa lepas dari rentenir. Mereka merasa terbantu rentenir meski menerapkan bunga yang tinggi.

“Mengapa pedagang lebih suka dengan bank plecit, karena lebuh mudah, petygas banknya mau turun nemuin masyarakat kecil,” katanya.

Menurur Rukma, Sektor Ini bisa dimasuki perbankan maupun Jamkrida, bila masyarakat mengajukan kredit, harus dipermudah,” kata dia.

Dia menambahkan, para pedagang kecil yang mengajukan kredit hendaknya dipermudah prosesnya. Jangan sampai mereka takut masuk bank.

“Bank bisa mendekati para pedagang kecil, tentu juga dipilih yang visible dan dianggap layak memperoleh kredit,” paparnya.

Ketua Komisi C DPRD Jateng Asfirla Harisanto mengatakan selain mempermudah kredit, perbankan diharapkan melindungi UMKM dengan memberikan pendampingan. “Pendampingan dibutuhkan karena UMKM juga dihadapkan dengan pengembangan produk hingga perluasan pasar,” katanya.

Dia melihat di Tiongkok, UMKM bisa menjadi andalan. Produknya bagus dan layak jual. “Kami juga menuntut para pengusaha profesional. Orang Eropa saja bilang produk-produk dari Indonesia unik. Ini yang harus dikembangkan,” tandasnya.

(NK)

Tulis Komentar Pertama