Home Ekbis Swasembada Pangan Jadi Agenda Tiga Tahun ke Depan

Swasembada Pangan Jadi Agenda Tiga Tahun ke Depan

297

Semarang, 23/12 (beritajateng.net) – Swasembada pangan menjadi agenda besar di sektor pertanian pemerintah dalam tiga tahun mendatang. Upaya mewujudkan swasembada beras (padi), jagung dan kedelai membutuhkan dukungan data akurat dan terkini sebagai pijakan perencana dan formulasi kebijakan.

Berita Resmi Statistik (BRS) menyajikan hasil Survei Rumah Tangga Usaha Tanaman Padi (SPD 2014) dan Survei Rumah Tangga Usaha Tanaman  Palawija (SPW 2014) mengenai informasi struktur ongkos usaha tani komoditas padi sawah dan padi ladang, informasi struktur ongkos baik musim hujan maupun kemarau.

Totok Tavirianto kepala Bidang Statistik Produksi Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mengatakan, jenis lahan pertanian yang dikelola rumah tangga dan pengguna pupuk dalam kegiatan budidaya tanaman sangat mempengaruhi produktivitas usaha tani.

Menurutnya, total biaya per musim tanam untuk satu hektar luas panen padi sawah sebesar Rp.  13,58 juta.

Totok menambahkan, komponen biaya produksi usaha tanaman padi sawah yang paling besar adalah peneluran untuk upah pekerja dan jasa pertanian yang mencapai 47,32 persen dari total biaya atau mencapai Rp.  6,43 juta.

Sementara itu, untuk perolehan panen padi di ladang, total biaya per musim tanam untuk satu hektar luas yakni sebesar Rp.  10,68 juta dan komponen biaya produksi yang paling besar untuk peneluran upah pekerja dan jasa pertanian yang mencapai 57,91 persen atau sebesar Rp.  6,18 juta.

Bukan hanya jumlah panen padi, lanjut Totok,  hasil panen jagung juga berpengaruh.  Total biaya per musim tanam untuk satu hektar luas panen jagung mencapai Rp.  12,10juta dengan biaya peneluran untuk upah pekerja dan jasa pertanian mencapai 41,58 persen atau Rp.  5,03 juta.

Pada tanaman kedelai membutuhkan biaya Rp. 10,63 juta per musim tanam untuk luas satu hektar dengan pengeluaran untuk upah pekerja dam jasa pertanian yang mencapai 48,65 persen atau Rp.  5,17juta.

“Yang mempengaruhi tingginya indeks pertanian adalah luas lahan dan musim, untuk musim kemarau petani banyak yang menanam palawija, namun pada musim hujan seperti saat ini, petani banyak yang beralih menanam padi, ” papar Totok. (Ely/ss)