Home Kesehatan Suka Ngamuk, Iksan Diisolasi Di Kamar Selama 15 Tahun

Suka Ngamuk, Iksan Diisolasi Di Kamar Selama 15 Tahun

325
0
Suka Ngamuk, Iksan Diisolasi Di Kamar Selama 15 Tahun
          BLORA, 4/12 (BeritaJateng.net) – Sungguh malang, itulah yang dialami Iksan Wahyudi (23) warga RT 3 RW 8 desa ngelobener kecamatan jepon Blora. Hampir 15 tahun ia harus diisolasi di dalam kamar petak berukuran 9 meter persegi dan hanya beralaskan papan kayu. Mirisnya lagi, Iksan hanya berselimut sarung tanpa menggunakan pakaian maupun celana. Keputusan isolasi diambil ibunya, Aminah (46) lantaran Iksan panggilan anaknya sering mengamuk dan marah-marah sendiri.
         “Hampir 15 tahunan diisolasi di kamar. Tidak saya ikat, cuma pintunya saya tutup dari luar biar tidak bisa keluar. Kalau keluar sering marah-marah dan membanting apa saja yang ada. Bahkan pernah suatu saat adiknya waktu tidur tiba-tiba ditarik-tarik sampai nangis,” ujar Aminah.
          Menurut Aminah, Iksan, anak pertamanya tersebut sejak kecil mengalami gangguan jiwa. Penyakit tesebut dialami anaknya karena jatuh pada saat masih kecil.
          “Sering jatuh-jatuh saat kecil, trus kata dokter gegar otak. Sama almarhum ayahnya diberi obat jawa kopi tulen sama madu asli,” tutur Aminah.
             Selain menderita gangguan jiwa, anak pertamanya tersebut juga tidak bisa bicara. Untuk minta makan dan minum, hanya bisa dilakukan dengan cara  berteriak dan memukul-mukul kamar.
           “Semua aktivitas di kamar. Buang air dan makan juga dikamar. Orangnya kan tidak bisa bicara, kalau lapar ya teriak-teriak dan mukul-mukul kamar,” ucapnya.
           Aminah memiliki 8 orang anak. Kini ia harus merawat dan membesarkan anaknya sendiri karena sang suami telah meninggal satu tahun silam. Aminah pun mengaku akhir-akhir ini juga mulai merasakan sakit- sakitan seperti sesak dan gemetar.
         “Sakit dalam mas, tangan ini kadang-kadang gemetar dan napas sesak. Ini tadi mau periksa ke puskesmas tapi anak saya yg kecil nangis terus,” akunya dengan tatapan yang kosong.
          Meski hidup dalam keterbatasan namun Aminah cukup beruntung karena memiliki kartu peserta keluarga harapan.  setiap 3 bulan ia mendapat jatah Rp 500 ribu. Selain itu biaya ketujuh anaknya juga gratis.
          “Setiap tiga bulan sekali dapat  uang Rp 500 ribu. Tapi uang itu tidak boleh digunakan untuk kebutuhan. Hanya boleh digunakan untuk membeli peralatan sekolah itupun harus ada kwitansinya,” katanya.
            Meski hidup dalam keterbatasan namun ia tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah kabupaten. “Kemarin datang dari dinas sosial, itupun setelah ramai di Facebook,” pungkasnya.
(Mn/El)