Home Headline Sudharto Prihatin Nilai Budi Pekerti Generasi Muda Rendah

Sudharto Prihatin Nilai Budi Pekerti Generasi Muda Rendah

248

SEMARANG, 15/8 (Beritajateng.net) – Niladi Budi Pekerti terkait Kebhinekaan (shoft skill) pada generasi muda dinilai Ketua Dewan Harian Badan Pembudayaan Kejuangan 45 (DHD BPK 45) Sudharto MA sangat memprihatinkan. Sudharto menilai hal ini disebabkan pengaruh Globalisasi yang melanda Bangsa Indonesia.

“Soft Skill generasi muda saat ini sangat memprihatinkan, karena era globalisasi sangat luar biasa tapi sayangnya generasi muda tidak bisa memilih mana yang baik untuk mereka,” ungkap Sudharto di FGD “Membangun Kualitas Generasi Muda Mencapai Cita-Cita Proklamasi 17 Agustus 1945”, Rabu (14/8).

Sudharto mencontohkan, betapa luhur muatan pesan pada seni tradisi untuk membangun karakter kebangsaan yang terdapat pada pertunjukan seni tradisi seperti Wayang, Kethoprak atau lainnya. Yang terjadi saat ini minat generasi muda untuk menyaksikan pertunjukan tersebut sangat rendah berbeda dengan pertunjukan seni kontemporer.

“Ketika ada pertunjukan seni kontemporer mereka berbondong bondong tapi ketika seni tradisi hanya sedikit yang menonton,” jelasnya.

Lebih lanjut Sudarto menyatakan, saat ini kaum muda ditantang oleh zaman untuk menjaga tegaknya kemerdekaan. Mengisi dan menegakkan kemerdekaan artinya melakukan tindakan untuk mempertahankan negara dalam kondisi yang baik.

“Kaum muda merupakan aset utama bangsa dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Mereka adalah tulang punggung utama dalam menopang proyek pembangunan nasional,” tandasnya.

Menurut Sudarto, sejak tahun 1998 atau era reformasi, generasi muda mulai kurang menaruh perhatian terhadap karakter bangsa, apalagi dalam dunia pendidikan ada pelajaran yang dihilangkan, seperti PMP, PSPB, Sejarah Indonesia.

“Padahal pelajaran itu memiliki materi yang berkaitan dengan soft skill atau kecerdasan emosional, keluhuran budi pekerti terkait dengan kebinekaan,” tambahnya.

Untuk itu lanjut Sudarto, pihaknya mencoba mendesign kegiatan yang membuat generasi muda berani melakukan refleksi diri mengenai nilai-nilai kejuangan bangsa untuk menggugah nilai-nilai kebangsaan.

“Sadar atau tidak, radikalisme, intoleransi, semangat menang sendiri dan paling benar sangat luar biasa. Makanya kami berharap mahasiswa yang mengikuti FGD ini bisa menindaklanjuti dengan sosialisasi tentang nilai kejuangan bangsa. Kalau ini bisa dilakukan secara masif geberasi muda akan mendapatkan hard skill dan soft skill,” pungkasnya.

Dalam FGD yang dimoderatori oleh Iwan Leksono HS, SE ini menghadirkan tiga narasumber yakni Dr. Teguh Yuwono, Dr. Honno Sejati dari GNPK RI Jateng dan Drs. Susigit Kusbandrio.

Sementara peserta FGD menurut Ketua Panitia, Sismiyadi, adalah perwakilan BEM se Jawa Tengah, Ormas-ormas se Jawa Tengah dan instansi terkait lainnya.

Dalam materinya, para nara sumber menyampaikan bahwa Indonesia akan mengalami periode Bonus Demografi selama rentang waktu 2020-2035 yang mencapai puncaknya pada 2030.

Pada saat itu, jumlah usia produktif jaug melebihi kelompok usia tidak produktif yakni anak-anak dibawah 14 tahun dan orang tua di atas 65 tahun.

“Guna menjawab tantangan ini, generasi muda perlu dibekali pendidikan karakter yang diharapkan akan melahirkan pribadi unggul yang tidak hanya memiliki kemampuan kognitif saja namun memiliki karakter yang mampu mewujudkan kesuksesan,” ujarnya.

Dalam pendidikan karakter harus ditanamkan kepada generasi muda mengenai nilai-nilai yang kelak akan membentuk karakter dan jatidiri mereka sebagai anak bangsa.

“Nilai-nilai tersebut antara lain religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, semangat kebangsaan, cinta tanah air, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan dan sosial serta tanggung jawab,” pungkasnya.

(NK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here