Home Kesehatan Stop Bullying!! 84 Persen Siswa di Semarang Korban Bullying

Stop Bullying!! 84 Persen Siswa di Semarang Korban Bullying

84
0
Pemkot Semarang meresmikan Rumah Duta Revolusi Mental.

Semarang, 16/9 (BeritaJateng.net) – Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyebutkan 84 persen siswa dari sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah atas (SMA) di ibu kota Provinsi Jawa Tengah itu pernah menjadi korban “bullying” di sekolah.

“Data dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Semarang, 84 persen siswa SD-SMP pernah jadi korban `bullying`,” katanya, usai meresmikan Rumah Duta Revolusi Mental (RDRM) Kota Semarang.

Hendi, sapaan akrab Hendrar Prihadi mengungkapkan “bullying” yang dialami siswa itu bervariasi, mulai dilakukan kawan-kawannya, seperti diejek, diolok-olok, hingga tindak kekerasan yang dilakukan gurunya.

Sebagai contoh, kata dia, sekitar sebulan lalu ada orang tua yang menghadap sembari menangis karena merasa anaknya diperlakukan tidak adil oleh gurunya gara-gar terlambat mengikuti ekstrakurikuler basket.

“Orang tua itu mengetahui anaknya pulang dengan baju sobek-sobek. Ternyata, gara-gara anaknya datang terlambat, dihukum `push up` oleh gurunya, tetapi tidak mau sehingga bajunya ditarik hingga sobek,” katanya.

Tak cukup itu, kata dia, ternyata oknum guru di sekolah favorit itu juga melakukan kekerasan yang dibuktikan dengan visum, dan sudah dilakukan koordinasi dengan dinas terkait, termasuk Dinas Pendidikan Kota Semarang.

Persoalannya, kata politikus PDI Perjuangan itu, “bullying” yang dilakukan tidak begitu saja selesai, sebab ternyata membekas di hati anak yang membuatnya depresi sampai tidak mau berangkat sekolah.

“Anak itu tidak mampu menahan depresinya sehingga meminta bisa melanjutkan sekolah tetapi tidak di Semarang. Akhirnya, pindah ke Lombok. Anak itu sama sekali tidak mau menginjakkan kaki lagi di Semarang,” katanya.

Ia tidak menginginkan kasus “bullying” tersebut terjadi lagi karena dampaknya tidak baik bagi masa depan generasi muda, apalagi sebagian pelaku “bullying” dulunya pernah menjadi korban tindakan serupa.

“Artinya, benang merah yang menjadikan `bullying` seolah-olah tradisi atau kebiasaan yang bisa diteruskan harus diputus. Kita semua ingin Indonesia semakin hari menjadi semakin hebat,” pungkas Hendi.

Senada dengan itu, psikolog di RDRM Semarang Lainatul Mudzkiyyah menjelaskan “bullying” terhadap anak-anak berpengaruh terhadap prestasi, kepercayaan diri, dan kemampuan bersosialisasi yang menjadi terhambat.

“Efek yang muncul, anak menolak berangkat ke sekolah, hingga yang terparah muncul keinginan bunuh diri. Saya pernah menemui ada anak SD yang merasakan ketidaknyamanan ketika berada di sekolah,” katanya.

Namun, kata dia, orang tua memaksakan anaknya untuk terus berangkat sekolah tanpa melihat sisi psikologis buah hatinya sehingga muncul keinginan dari si anak tersebut untuk mengakhiri hidupnya.

“Ya, pindah sekolah bukan satu-satunya solusi. Tetapi, paling tidak harus ada terapi terhadap si anak. Biasanya, kami berikan terapi pikiran. Kalau pikirannya sudah positif, baru terapi perilaku,” katanya. (El)