Home Headline Status Gunung Slamet Diturunkan jadi Waspada

Status Gunung Slamet Diturunkan jadi Waspada

image
Gunung Slamet

Purwokerto, 5/1 (Beritajateng.net) – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menurunkan status Gunung Slamet, Jawa Tengah, dari “Siaga” menjadi “Waspada”.

“Status Gunung Slamet diturunkan menjadi ‘Waspada’ sejak hari ini, pukul 16.00 WIB,” kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Slamet PVMBG Sudrajat saat dihubungi dari Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Senin malam.

Menurut dia, penurunan status tersebut dilakukan karena aktivitas Gunung Slamet cenderung stabil.

Dalam hal ini, kata dia, aktivitas seismik Gunung Slamet yang terekam dalam seismograf di Pos PGA Slamet, Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, cenderung menunjukkan garis lurus.

Selain itu, lanjut dia, berdasarkan pengamatan visual, Gunung Slamet hanya mengeluarkan asap putih tebal.

“Tadi pagi, asap putih tebal yang dikeluarkan Gunung Slamet hanya setinggi 100 meter,” katanya.

Dengan diturunkannya status Gunung Slamet menjadi waspada, kata dia, radius bahaya gunung tertinggi di Jateng itu dipersempit menjadi 2 kilometer dari puncak.

Oleh karena itu, dia mengimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari puncak Gunung Slamet.

Di samping itu, jalur pendakian Gunung Slamet masih ditutup.

Gunung Slamet yang meliputi Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes, kembali mengalami peningkatan aktivitas setelah lima tahun “tertidur” sehingga Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meningkatkan status gunung tertinggi di Jateng itu menjadi “Waspada” pada tanggal 10 Maret 2014, pukul 21.00 WIB.

Oleh karena aktivitasnya cenderung meningkat, PVMBG pada tanggal 30 April 2014, pukul 10.00 WIB, menaikkan status Gunung Slamet menjadi “Siaga”.

Setelah 12 hari berstatus “Siaga” dan aktivitasnya cenderung turun, PVMBG pada tanggal 12 Mei 2014, pukul 16.00 WIB, menurunkan status Gunung Slamet menjadi “Waspada”.

Akan tetapi sejak tanggal 12 Agustus 2014, pukul 10.00 WIB, status Gunung Slamet kembali dinaikkan menjadi “Siaga” karena aktivitasnya cenderung meningkat.

Sejak saat itu, Gunung Slamet semakin mengeluarkan suara dentuman dan lontaran material pijar.

Bahkan, pada tanggal 17-18 September 2014, Gunung Slamet mengalami erupsi sehingga mengakibatkan terjadinya hujan abu di sejumlah wilayah Banyumas.

Kendati demikian, erupsi Gunung Slamet itu tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan rumah warga.

Pakar vulkanologi Surono mengatakan bahwa karakter erupsi atau letusan Gunung Slamet masih tetap, yakni strombolian berupa lontaran material atau lava pijar dan abu.(ant/Bj02)

Advertisements